Piala Dunia 1938 di Prancis digelar di tengah memanasnya suhu politik di Eropa. Adolf Hitler di Jerman sudah memanaskan mesin perangnya. Hanya soal waktu perang meletus.
Meniru jejak Mussolini pada 1934, Hitler mengajukan Jerman sebagai tuan rumah Piala Dunia 1938. Sebelumnya Jerman menjadi tuan rumah Olimpiade 1936. Sebagaimana Mussolini yang memanfaatkan Piala Dunia untuk menyebarkan propaganda fasisme, Hitler juga melakukan hal yang sama di Olimpiade.
Menyadari seriusnya ancaman fasisme ini, FIFA menolak proposal Jerman. Prancis dipilih menjadi tuan rumah untuk menyelamatkan citra stabilitas dan keharmonisan di Eropa. Namun keputusan ini mengorbankan keharmonisan Piala Dunia sendiri.
Argentina memprotes kebijakan itu karena merasa berhak menjadi tuan rumah. Mereka meyakini adanya kesepakatan tidak tertulis mengenai rotasi penyelenggaraan antara Eropa dan Amerika Selatan. Kekecewaan tersebut membuat Argentina, Kolombia, Peru, dan Paraguay mengikuti jejak Uruguay yang menolak berpartisipasi.
Amerika Serikat, Kosta Rika, dan Meksiko juga memilih mundur. Alhasil, hanya dua negara dari Benua Amerika yang terbang ke Prancis: Brasil dan Kuba.
Dua belas peserta lainnya adalah negara-negara Eropa, yakni tuan rumah Prancis, juara bertahan Italia, Belgia, Cekoslowakia, Hungaria, Jerman, Norwegia, Polandia, Rumania, Swedia, Swiss, dan Belanda.
Perang saudara membuat Spanyol tidak dapat berpartisipasi. Austria mengundurkan diri setelah diinvasi Jerman dalam peristiwa Anschluss. Sejumlah pemain Austria kemudian bergabung dengan tim Jerman.
FIFA sebenarnya membujuk Inggris untuk menggantikan Austria. Namun Asosiasi Sepak Bola Inggris kembali menolak karena belum bergabung dengan FIFA.
Sementara Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda menjadi satu-satunya negara Asia dan merupakan negara Asia pertama yang berpartisipasi dalam Piala Dunia. Saat itu Hindia Belanda diuntungkan dengan ketidakikutsertaan Jepang dalam proses kualifikasi sehingga mendapatkan tiket otomatis ke putaran final. Kebetulan, Jepang adalah bagian dari poros politik bersama Jerman dan Italia.
Ada sepuluh kota di Prancis yang menjadi tuan rumah. Pertandingan digelar di Lille di utara, Marseille di selatan, hingga Strasbourg yang berdekatan dengan perbatasan Jerman.
Pemilihan lokasi pertandingan ini bertujuan menarik sebanyak mungkin penonton dari berbagai wilayah Eropa. Namun mundurnya Austria menyebabkan Lyon keluar dari daftar lokasi pertandingan.
FIFA mempertahankan sistem gugur yang dianggap terbukti menghasilkan pertandingan-pertandingan dramatis. Di Prancis, lima dari tujuh laga putaran pertama harus ditentukan melalui perpanjangan waktu dan dua di antaranya memerlukan pertandingan ulang.
Salah satu pertandingan dramatis itu adalah Brasil melawan Polandia di Strasbourg. Ini bagaikan pertarungan dua pemain hebat: Leonidas yang dijuluki Berlian Hitam oleh publik Prancis menghadapi striker Polandia Ernest Wilimowski.
Brasil sempat unggul 3-1 pada babak pertama. Namun hattrick Ernest Wilimowski membuat kedudukan imbang 4-4 pada akhir waktu normal.
Saat perpanjangan waktu, Wilimowski mencetak gol keempatnya dan menjadi pemain pertama yang mencetak empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia. Namun Leonidas yang mencetak gol pertama Brasil kembali menambah dua gol yang mengantarkan kemenangan Brasil dengan skor 6-5.
Tuan rumah Prancis tampil meyakinkan saat mengalahkan Belgia 3-1. Emile Veinante mencetak gol cepat sebelum Jean Nicolas menambah dua gol lainnya. Sementara itu, Hungaria menghancurkan Hindia Belanda 6-0.
Juara bertahan Italia menghadapi pertandingan yang berat kali ini. Penonton mencemooh para pemain Italia yang melakukan salam fasis sebelum pertandingan. Publik Marseille jelas berpihak pada Norwegia yang menjadi lawan Italia di Babak 16 Besar.
Norwegia sendiri menampilkan permainan yang merepotkan Italia. Setelah kebobolan gol penyama kedudukan menjelang akhir pertandingan, Silvio Piola mencetak gol kemenangan Italia pada masa tambahan waktu.
Kuba tampil mengejutkan saat menghadapi Rumania. Setelah bermain imbang, Kuba menang 2-1 dalam pertandingan ulang. Namun mereka dihajar Swedia 0-8 di babak perempat final.
Jerman gagal memanfaatkan Piala Dunia sebagai alat propaganda. Kendati diperkuat pemain-pemain Austria, mereka dikalahkan Swiss 2-4 sehingga harus pulang lebih awal.
Tensi pertandingan babak perempat final semakin tinggi. Pertandingan Brasil melawan Cekoslowakia di Bordeaux berlangsung keras. Pertandingan itu benar-benar layak dijuluki Battle of Bordeaux atau Pertempuran Bordeaux.
Dua pemain andalan Ceko mengalami cedera berat. Kiper Frantisek Planicka mengalami patah lengan, sementara penyerang Oldrich Nejedly menderita patah kaki. Pertandingan berakhir imbang sehingga diperlukan laga ulang. Dengan banyak pemain inti absen, Cekoslowakia akhirnya kalah 1-2 dan Brasil melaju ke semifinal.
Pertandingan perempat final antara Prancis dan Italia menghadirkan kontroversi jersey atau kostum. Kedua tim sama-sama mengenakan jersey warna biru. Akhirnya Mussolini memerintahkan timnya memakai seragam hitam yang melambangkan kelompok paramiliter fasis Italia. Mussolini seperti ingin menantang publik Prancis, dan Italia berhasil mengalahkan Prancis 3-1.
Semifinalis lainnya adalah Hungaria yang sukses mengalahkan Swiss 2-0 di perempat final. Kedigdayaan mereka tak terusik dengan mengalahkan Swedia 5-1 di semifinal. Gyula Zsengeller mencetak dua gol dalam pertandingan itu.
Publik Prancis berharap Brasil bisa mengalahkan Italia. Namun pelatih Brasil Adhemar Pimenta melakukan kesalahan dengan tidak menurunkan Leonidas. Dua gol dari Gino Colaussi dan Giuseppe Meazza mengantarkan Italia lolos ke final untuk kali kedua.
Tak mau mengulangi kesalahannya yang membuat Brasil kalah 1-2 dari Italia, Adhemar Pimenta menurunkan Leonidas dalam pertandingan perebutan posisi ketiga. Dua gol Leonidas membawa Brasil mengalahkan Swedia 4-2 sekaligus menobatkan Sang Berlian Hitam menjadi pencetak gol terbanyak dengan tujuh gol sepanjang turnamen.
Final yang digelar di Stade Olympique de Colombes, Paris, pada 19 Juni 1938 menghadirkan duel dua tim dengan filosofi berbeda. Gino Colaussi membawa Italia unggul cepat. Namun Hungaria segera menyamakan kedudukan melalui Pal Titkos. Giuseppe Meazza menciptakan peluang yang diselesaikan Piola dan Colaussi sehingga Italia unggul 3-1 saat turun minum.
Di babak kedua, Hungaria sempat memperkecil ketertinggalan melalui Gyorgy Sarosi. Namun Silvio Piola kembali mencetak gol dan memastikan kemenangan Italia 4-2. Pelatih Vittorio Pozzo berhasil membawa timnya mempertahankan gelar juara dunia, menjadikan Italia negara pertama yang sukses mempertahankan trofi Piala Dunia.
Setahun kemudian, dunia memasuki masa perang. Para pemain Italia yang berhasil mempertahankan gelar Piala Dunia kini harus terjun ke medan pertempuran.
Sementara itu, Jerman boleh gagal total dalam Piala Dunia. Namun Hitler mengompensasi kegagalannya itu dengan menginvasi negara-negara peserta turnamen seperti Polandia, Prancis, Belgia, Cekoslowakia, Norwegia, dan Belanda. Perang Dunia II meletus. Piala Dunia pun harus ditiadakan. [wir/kun]






