Jakarta (beritajatim.com) – PT Arsynergy Resources terus memperkuat perannya dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui operasional kilang LPG yang berlokasi di Kawasan Industri Maspion V, Manyar, Gresik, Jawa Timur.
Perusahaan nasional yang bergerak di bidang pengolahan gas bumi menjadi LPG, kondensat, dan lean gas tersebut dinilai memiliki posisi strategis dalam menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia.
Peran strategis tersebut semakin diperkuat setelah fasilitas pengolahan LPG milik PT Arsynergy Resources ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas) berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2004 serta Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 385.K/BN.05/MEM.S/2025 tentang Objek Vital Nasional Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.
Status tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan operasional kilang memiliki kepentingan vital bagi masyarakat dan negara.
Gangguan terhadap aktivitas produksi maupun distribusi LPG berpotensi memengaruhi pasokan energi yang dibutuhkan rumah tangga, UMKM, hingga sektor industri.
Managing Director PT Arsynergy Resources, Achmad Harijanto, menegaskan bahwa keberadaan perusahaan tidak hanya berorientasi pada kegiatan bisnis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional.
“Kehadiran kami adalah bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional dan mengurangi impor LPG dalam pemenuhan kebutuhan dalam negeri,” kata Achmad Harijanto, Selasa (2/5/2026).
Ketergantungan Impor LPG Masih Tinggi
Pernyataan tersebut sejalan dengan kondisi kebutuhan LPG nasional yang hingga kini masih sangat bergantung pada pasokan impor. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), porsi impor LPG Indonesia pada 2025 mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan nasional.
Angka tersebut bahkan meningkat pada awal 2026. Hingga Februari 2026, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG tercatat mencapai sekitar 83,97 persen dari kebutuhan domestik.
Besarnya kebutuhan energi berbasis gas juga terlihat dari tingkat konsumsi nasional yang mencapai sekitar 25 ribu metrik ton LPG per hari atau setara sekitar 9,1 juta ton per tahun sepanjang 2025.
Dengan tingkat konsumsi tersebut, volume impor LPG Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 7,3 juta ton dalam satu tahun. Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar dengan kontribusi sekitar 70 persen dari total impor LPG nasional, diikuti sejumlah negara lain seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Australia, dan Malaysia.
Kilang Domestik Jadi Bagian Penting Ketahanan Energi
Tingginya ketergantungan terhadap impor menunjukkan bahwa sektor produksi dan distribusi LPG dalam negeri memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga stabilitas energi nasional.
Apabila terjadi gangguan pasokan global atau hambatan distribusi domestik, dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat karena LPG merupakan kebutuhan utama rumah tangga, pelaku usaha mikro dan kecil, restoran, hingga sektor industri.
Karena itu, PT Arsynergy Resources terus mengoptimalkan operasional kilang serta sistem distribusinya guna memastikan pasokan energi tetap terjaga.
Perusahaan menilai ketahanan energi tidak hanya bergantung pada kemampuan memproduksi energi, tetapi juga pada kelancaran distribusi hingga sampai ke tangan konsumen secara aman dan berkelanjutan.
Gunakan Teknologi Efisien dan Ramah Lingkungan
Sebagai operator kilang LPG, PT Arsynergy Resources mengoperasikan fasilitas pengolahan gas bumi dengan teknologi Turbo Expander yang memiliki tingkat efisiensi tinggi dalam proses ekstraksi LPG.
Teknologi tersebut memungkinkan optimalisasi produksi LPG sekaligus membantu mengurangi emisi dan volume gas suar (flare gas) yang dihasilkan selama proses pengolahan.
Dengan kapasitas operasi mencapai 50 juta standar kaki kubik per hari (50 MMSCFD), fasilitas tersebut menjadi salah satu kilang pengolahan gas strategis yang berkontribusi terhadap penyediaan energi bersih nasional.
Keberadaan kilang LPG domestik seperti yang dioperasikan PT Arsynergy Resources dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi, mengurangi ketergantungan impor, serta memastikan ketersediaan LPG bagi masyarakat dan dunia usaha di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional. (ted)






