Piala Dunia 1934 di Italia merupakan momentum pemujaan terhadao diktator fasis Benito Mussolini. Sebelum pertandingan final dimulai di Stadion Nasional PNF Roma, para pemain Italia menghadap tribun utama dan memberikan penghormatan khas fasis kepadanya.
Sementara bagi Mussolini, Piala Dunia adalah momentum ideologis menyatukan Italia. Bendera Italia dikibarkan lebih tinggi daripada negara-negara lain di Stadion Nasional Roma dan lagu fasisme Giovinezza terdengar lantang. Inilah panggung baginya.
Empat tahun setelah Piala Dunia pertama, Italia menempuh cara Uruguay untuk menjadi tuan rumah. Mereka bersedia menanggung biaya keikutsertaan negara-negara peserta. Stadion di delapan kota, mulai dari Turin, Napoli, Roma, hingga Trieste disiapkan menjadi lokasi pertandingan.
Jumlah peserta pun bertambah. Sebanyak 32 negara berebut kuota 16 peserta melalui babak kualifikasi. Bahkan tuan rumah Italia pun harus bertanding dalam babak kualifikasi melawan Yunani dan menang 4-0 di Roma. Italia lolos setelah Yunani menolak memainkan pertandingan kedua di Athena.
Dua belas negara Eropa berhasil lolos ke putaran final, yakni Italia, Cekoslowakia, Jerman, Austria, Hungaria, Spanyol, Swedia, Swiss, Prancis, Rumania, Belanda, dan Belgia.
Negara-negara Britania kembali absen. Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara masih belum menjadi anggota FIFA dan menganggap kompetisi domestik mereka lebih penting dibanding Piala Dunia.
Sementara dari benua Amerika, Argentina, dan Brasil datang tidak dengan kekuatan penuh. Amerika Serikat kembali tampil setelah mengalahkan Meksiko dalam pertandingan kualifikasi yang dimainkan hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai.
Uruguay menjadi satu-satunya juara bertahan Piala Dunia yang tidak mempertahankan gelarnya sepanjang sejarah, setelah menolak ikut serta. Mereka kecewa dengan penolakan sebagian besar negara Eropa untuk bertanding dalam Piala Dunia empat tahun sebelumnya.
Mesir menjadi wakil pertama Afrika, setelah mengalahkan Palestina dalam pertandingan kualifikasi. Benua Asia belum memiliki wakilnya kali ini.
Format kompetisi kali ini berubah total. FIFA menghapus fase grup dan menggantinya dengan sistem gugur. Tidak berimbangnya kekuatan antartim menjadikan babak perempat final akhirnya dikuasai delapan negara Eropa.
Tim Italia diperkuat sejumlah pemain kelahiran Argentina yang berdarah Italia, antara lain Luis Monti, Enrique Guaita, dan Orsi. Mereka menjadi protagonis kemenangan telak Italia 7-1 atas Amerika Serikat. Angelo Schiavio mencetak tiga gol, sementara Raimundo Orsi menyumbang dua gol.
Sementara itu Argentina sendiri disingkirkan Swedia 2-3. Brasil mengalami nasib serupa setelah takluk 1-3 dari Spanyol.
Hungaria berhasil mengalahkan Mesir 4-2. Namun pujian justru diarahkan kepada pemain Negeri Sphinx. Mereka berhasil membuat Hungaria kelabakan. Abdulrahman Fawzi mencetak dua gol dan sebuah golnya dianulir wasit, karena fianggap offside. Kontroversi pun merebak.
Sejumlah pertandingan antarnegara Eropa berjalan ketat. Jerman mengalahkan Belgia 5-2. Cekoslowakia menyingkirkan Rumania 2-1. Swiss mengalahkan Belanda 3-2.
Austria yang dijuluki Wunderteam karena mencatat rangkaian hasil impresif pada awal dekade 1930-an sempat kerepotan saat menghadapi Prancis. Matthias Sindelar dan kawan-kawan harus bekerja keras hingga perpanjangan waktu untuk mengalahkan Prancis 3-2.
Di babak perempat final, Italia dan Spanyol harus menjalani laga ulang, setelah bermain imbang 1-1. Pertandingan berjalan keras, sehingga sejumlah pemain mengalami cedera, termasuk kiper legendaris Spanyol Ricardo Zamora.
Dalam pertandingan ulang, gol tunggal Giuseppe Meazza membawa Italia lolos ke semifinal. Namun sejumlah pengamat mulai mempertanyakan kualitas kepemimpinan wasit yang dianggap menguntungkan tuan rumah.
Permainan keras dan keributan antarpemain terjadi dalam pertandingan Austria melawan Hungaria. Namun anak-anak asuhan Hugo Meisl berhasil mengalahkan Hungaria 2-1 dan meluncur ke semifinal untuk menghadapi Italia.
Cekoslowakia lolos ke final setelah mengalahkan Jerman 3-1. Bintang mereka, Oldrich Nejedly, tampil gemilang dengan mencetak hattrick.
Final ideal seharusnya terjadi dalam pertandingan semifinal antara Italia dengan Austria. Ini pertarungan adu taktik dua pelatih hebat, Hugo Meisl versus Vittorio Pozzo.
Pozzo menyiapkan strategi khusus untuk meredam permainan Austria. Luis Monti ditugaskan menjaga ketat Sindelar. Sindelar yang dijuluki The Paper Man alias Manusia Kertas karena badannya yang kurus memang boleh dibilang pemain terbaik era itu.
Namun derasnya guyuran hujan menyebabkan pertandingan tidak berjalan sesuai harapan Meisl. Permainan umpan pendek penuh teknik dari kaki ke kaki gagal dijalankan pemain Austria. Di hadapan 60 ribu penonton, gol tunggal Enrique Guaita mengantarkan Italia ke final.
Gagal di semifinal, Meisl sebenarnya berharap bisa merebut posisi ketiga. Namun kali ini Austria kembali gagal, setelah dikalahkan Jerman 2-3.
Pertandingan pemuncak di Roma berjalan ketat. Kedua tim memiliki pertahanan kuat sekaligus lini serang berbahaya.. Penjaga gawang dan kapten Italia Giampiero Combi maupun penjaga gawang dan kapten Ceko Frantisek Planicka harus bekerja keras.
Luis Monti menjalankan tugasnya dengan baik. Dia berhasil mengantongi Nejedly yang menjadi top skor turnamen. Namun Italia gagal menghentikan Antonin Puc. Pada menit ke-76, penyerang Cekoslowakia itu membawa timnya unggul 1-0 dan membuat stadion terdiam.
Italia berada di ambang kekalahan. Saat terus menekan untuk mencari gol penyama kedudukan, mereka beberapa kali hampir kebobolan melalui serangan balik.
Sembilan menit sebelum waktu normal berakhir, Enrique Guaita mengirim bola kepada Raimundo Orsi. Dengan aksi individu yang brilian, Orsi melepaskan tembakan melengkung yang gagal dijangkau Planicka dan mengubah skor menjadi 1-1.
Dalam babak perpanjangan waktu, Guaita kembali berperan besar dengan memberikan assist kepada Schiavio untuk mencetak gol pada menit 95.
Cekoslowakia berusaha menyamakan kedudukan. Namun Italia bermain habis-habisan agar Combi tidak kebobolan.
Italia akhirnya menjadi juara dunia. Mussolini tersenyum. Hari itu dia lebih dikenal daripada Presiden FIFA Jules Rimet. Rakyat Italia mengelu-elukannya.
Namun dunia sepak bola akan mengenang Vittorio Pozzo sebagai salah satu ahli taktik terbaik pada zamannya. Ia berhasil membangun tim yang kuat secara fisik, disiplin, dan efektif. Tiga pemain berdarah Argentina, Monti, Guaita, dan Orsi akan dikenang sebagai pahlawan Italia, saat Argentina, negeri nenek moyang mereka, justru terpuruk.
Oryza A Wirawan,
Jurnalis Senior, pegiat Bonek Writer Forum.






