Gresik (beritajatim.com) – Terobosan baru disiapkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Gresik untuk mendongkrak minat baca masyarakat. Tahun depan, Dispusip akan menghadirkan Badhugku, sebuah ruang singgah terbuka yang bisa dimanfaatkan warga untuk membaca, berdiskusi, hingga bersantai secara gratis.
Program ini digadang-gadang menjadi jawaban atas minimnya ruang publik yang nyaman sekaligus edukatif di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap gawai dan media sosial.
Kepala Dispusip Kabupaten Gresik, Budi Raharjo, menjelaskan bahwa konsep Badhugku terinspirasi dari budaya Jawa masa lalu yang akrab dengan keberadaan lincak, bangku bambu di halaman rumah yang menjadi pusat interaksi sosial warga.
“Dulu lincak menjadi tempat masyarakat berkumpul, bercengkerama, dan berbagi cerita. Kini konsep itu berkembang menjadi third place atau tempat ketiga, yaitu ruang singgah selain rumah dan tempat kerja,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).
Berbeda dengan tren tempat nongkrong yang identik dengan kopi dan kuliner, Badhugku dirancang sebagai ruang publik yang tetap mengedepankan budaya literasi.
Warga dapat datang sejak pagi hingga pukul 22.00 WIB untuk membaca buku, berdiskusi, atau sekadar melepas penat setelah beraktivitas. Dispusip juga akan menempatkan mobil perpustakaan di lokasi sehingga pengunjung dapat langsung mengakses berbagai koleksi bacaan. “Siapa saja bisa datang dan membaca secara gratis. Buku tersedia di lokasi dan bisa langsung dinikmati oleh masyarakat,” imbuh Budi.
Menariknya, Dispusip sengaja tidak menghadirkan kedai kopi atau fasilitas komersial lainnya. Sebagai gantinya, pengunjung akan disediakan dispenser air minum gratis agar suasana tetap nyaman tanpa menghilangkan fungsi utama sebagai ruang literasi.
Saat ini, kawasan halaman kantor Dispusip Gresik masih dalam tahap penataan. Sejumlah pembenahan dilakukan mulai dari perbaikan area parkir, peningkatan pencahayaan, hingga akses yang lebih ramah bagi pengunjung.
Transformasi tersebut diharapkan mampu menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan menarik bagi seluruh kalangan, mulai dari pelajar, pekerja, hingga komunitas masyarakat.
Tak hanya menghadirkan ruang baca terbuka, Dispusip juga sedang menyiapkan sistem keanggotaan digital yang lebih praktis.
Masyarakat nantinya cukup memindai barcode, mengisi data diri, dan nomor telepon untuk langsung terdaftar sebagai anggota perpustakaan. Setelah itu, layanan peminjaman buku dapat dilakukan dengan lebih cepat dan mudah.
“Kami ingin proses menjadi anggota perpustakaan tidak lagi rumit. Semuanya dibuat lebih sederhana dan berbasis digital,” ungkap Budi.
Kehadiran Badhugku bukan hanya bertujuan meningkatkan minat baca, tetapi juga menghadirkan ruang interaksi sosial yang inklusif bagi masyarakat.
Di tengah semakin terbatasnya ruang berkumpul yang produktif, program ini diharapkan menjadi alternatif bagi warga untuk menghabiskan waktu dengan aktivitas yang lebih bermanfaat.
Jika terealisasi sesuai rencana, Badhugku berpotensi menjadi ikon baru literasi di Gresik sekaligus membuktikan bahwa membaca tidak harus dilakukan di dalam gedung perpustakaan, melainkan bisa menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. (dny/kun)






