Bondowoso (beritajatim.com) – Siang itu, Kusmiati membawa motor maticnya bersama sang anak. Kendaraannya berhenti, diparkir di depan sebuah bangunan semi permanen di Desa Sumbergading, Kecamatan Sumberwringin. Sebuah desa di kaki pegunungan Ijen-Raung.
Kusmiati rela berkendara lintas desa dengan membawa satu kresek berisi 8 kilogram biji kopi kering siap roasting/sangrai.
Dalam istilah perkopian, Kusmiati membawa green bean untuk diolah menjadi roasted bean atau kopi sangrai. Jika dihaluskan menjadi ground coffe alias kopi bubuk.
Meskipun di Toko Al Farizi itu juga menjual green bean dan roasted bean, akan tetapi Kusmiati memilih membayar jasa giling saja. “Karena saya punya kebun kopi sendiri. Ke sini hanya tinggal sangrai dan giling,” ungkap warga Dusun Plampang, Desa Rejoaung, Kecamatan Sumberwringin itu.
Setiap kilogram, ia membayar Rp10 ribu di Toko Al Farizi. Rp80 ribu disiapkannya untuk penggilingan kopi hari ini. Kopi bubuk yang sudah diproses ini diperkirakan habis dalam 1,5 bulan. “Karena untuk setiap 10 kilo, biasanya habis 2 bulan,” ucapnya.
Jika dihitung, per bulan ia memerlukan 5 kg kopi bubuk atau 1 kg bakal habis tak sampai sepekan penuh. Hal itu dikarenakan banyak orang di lingkungan usahanya yang perlu disuguhkan kopi saban hari.
“Karena yang diopeni banyak. Lebih hemat kalau pakai kopi sendiri dibanding beli kopi kemasan,” sebutnya seraya tersenyum.
Setyowati, pemilik usaha Toko Al Farizi mengaku baru delapan bulan mendirikan usaha tersebut. Walau belum genap setahun, toko sederhana ini bisa meroasting antara 20-50 kilogram kopi per hari.
“Selain buka jasa roasting dan giling, kami juga menyediakan roasted bean untuk yang tidak bawa green bean. Tinggal duduk, pulang bawa kopi bubuk,” tuturnya.
Kopi yang dijual bermacam-macam. Ada jenis robusta mulai harga Rp100 ribu hingga Rp165 ribu per kg. “Ada juga Arabika mulai harga Rp200 ribu sampai Rp350 ribu per kg,” sebutnya.
Ia mengakui setiap usaha ada pasang surut. Tapi jika dihitung rata-rata, omzetnya bisa berkali lipat dari UMR Bondowoso (Rp2,5 juta per bulan). “Per bulan minimal dapat Rp5juta. Untuk margin keuntungan, rahasia dapur,” jawabnya sembari tersenyum ringan. (awi/ted)






