RINGKASAN BERITA:
- Jemaah dengan kondisi khusus dikumpulkan di Hotel Durat Al Mashaeir 2 untuk menjalani masa transit selama dua malam.
- Armada sebanyak 18 bus khusus disiapkan untuk mendorong jemaah lansia menuju Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026.
- Kriteria peserta Safari Wukuf menyasar lansia tanpa pendamping dan jemaah yang membutuhkan layanan tambahan.
Makkah (beritajatim.com) – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi memastikan sebanyak hampir 400 jemaah haji lanjut usia (lansia) Indonesia masuk dalam program Safari Wukuf pada musim haji 1447 H / 2026 M.
Langkah proaktif ini diambil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI untuk memfasilitasi jemaah berkebutuhan khusus agar tetap dapat menunaikan wukuf di Arafah sebagai rukun sah tertinggi ibadah haji.
Melalui skema mitigasi ini, aspek keselamatan dan kenyamanan jemaah yang memiliki keterbatasan fisik menjadi prioritas utama. Seluruh akomodasi dan pergerakan jemaah diatur secara terpusat oleh struktur penanganan khusus.
“Total jamaah haji yang diberikan kepada kami kurang lebih 300-400 jemaah [untuk Safari Wukuf],” kata Kepala Bidang (Kabid) Lansia dan Disabilitas (Landis) PPIH Arab Saudi, Suviyanto kepada Media Center Haji (MCH) di Makkah, Minggu (24/5/2026).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, proses mobilisasi jemaah lansia dari hotel pemondokan sektor menuju titik kumpul utama sudah mulai bergulir. Petugas perlindungan jemaah melakukan pengawalan ketat pada setiap sediaan kursi roda untuk mencegah risiko disorientasi atau kelelahan fisik.
Suviyanto menjelaskan, sebelum diberangkatkan menuju hamparan Arafah, masing-masing jemaah dijemput langsung oleh petugas dari hotel asal untuk dikumpulkan di hotel transit, yakni Hotel Durat Al Mashaeir 2. Di lokasi terpusat ini, para jemaah akan menjalani masa karantina ringan dan istirahat intensif selama dua malam.
Selama berada di hotel transit, jemaah lansia tidak dibiarkan pasif. PPIH Arab Saudi mengunci suplai pemenuhan layanan secara komprehensif yang meliputi pemenuhan kebutuhan biologis, pendampingan psikologis, interaksi sosial, pemantauan kesehatan berkala, hingga bimbingan manasik ibadah yang disesuaikan dengan rukhshah (keringanan) fikih.
Sesuai dengan lini masa pergerakan, pada 9 Zulhijah atau bertepatan dengan Selasa, 26 Mei 2026, seluruh jemaah lansia di hotel transit akan didorong menuju Arafah. Pihak Kemenhaj telah menyiagakan armada khusus berupa 18 bus yang ramah lansia dan disabilitas untuk memobilisasi jemaah ke padang Arafah.
“Ada lansia yang bisa menjalankan ibadah wukuf biasa. Namun, ada pula yang kondisinya harus mengikuti Safari Wukuf,” jelas Suviyanto mengenai pemisahan klaster jemaah.
Secara regulasi, syarat mutlak jemaah yang berhak masuk ke dalam lis program Safari Wukuf bentukan PPIH ini adalah jemaah yang masuk kategori lansia, lansia tanpa pendamping, serta jemaah lansia yang membutuhkan intervensi layanan medis dan fisik tambahan.
Dinamika melayani kelompok rentan ini diakui memicu tantangan tersendiri di lapangan, terutama saat petugas berhadapan dengan jemaah yang mengalami gejala demensia atau penurunan daya ingat akut. Kendati demikian, penanganan medis tetap berjalan presisi berkat integrasi data tim kesehatan.
“Kalau jemaahnya sakit cukup parah, kami rujuk ke rumah sakit,” tegas Suviyanto.
Adapun pasca-seluruh rangkaian Safari Wukuf jemaah lansia ini rampung dikawal di Arafah, para petugas haji yang melekat pada tim ini baru akan diberikan kesempatan untuk menyelesaikan wajib haji mereka sendiri, termasuk prosesi melontar jumrah di Jamarat. [ian/MCH]






