Ringkasan Berita:
- Warga RT 03 RW 34 Perumahan Jawa Asri, Kelurahan Sumbersari, Jember, menggelar nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di halaman musala dengan melibatkan pria, perempuan, hingga anak-anak.
- Nobar yang diinisiasi warga tersebut berlangsung gotong royong, mulai dari penyediaan layar, proyektor, hingga konsumsi berupa kopi dan camilan yang disiapkan ibu-ibu PKK.
- Usai pemutaran film tentang perjuangan masyarakat adat Papua Selatan menghadapi proyek PSN, warga menggelar diskusi singkat mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan alam sekitar.
Jember (beritajatim.com) – Nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tak hanya dilakukan di kampus, tapi juga di perumahan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sejumlah warga RT 03 RW 34 Lingkungan Perumahan Jawa Asri, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Sumbersari menggelar nobar di halaman musala, Sabtu (23/5/2026) malam.
Nobar ini tak hanya dihadiri kaum pria, tapi juga kaum perempuan dan anak-anak. Ditemani camilan tahu goreng, pisang goreng, pisang rebus, dan bercangkir-cangkir kopi, mereka menyaksikan film berdurasi 96 menit tersebut.
Film dokumenter ini mengisahkan perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan untuk mempertahankan tanah leluhur mereka dari ancaman eksploitasi Proyek Strategi Nasional (PSN) ketahanan pangan dan energi berupa pembukaan hutan seluas 2,5 juta hektare.
“Awal mula nobar ini berasal dari ide bapak-bapak yang biasa jagongan malam untuk nobar Piala Dunia sebentar lagi. Tapi menunggu Piala Dunia bulan depan masih cukup lama, lalu ada yang usul kalau nobar Pesta Babi,” kata Muhammad Iqbal. Ketua RT 03.
Warga pun kemudian bergotong royong menyiapkan perangkat nobar, antara lain membeli kain putih polos untuk layar, pengeras suara, mikrofin, dan LCD proyektor. Sementara ibu-ibu pengurus PKK menyiapkan minuman kopi, teh, dan berbagai camilan.
RT 03 dihuni 40 kepala keluarga. Kurang lebih tiga puluh orang hadir dalam acara nobar, termasuk warga dari luar perumahan.
Usai pemutaran film, warga berdiskusi singkat dan menceritakan kesan-kesan tentang film tersebut. Salah satu warga mengatakan, film itu mengingatkan masyarakat untuk menjaga lingkungan dan alam, termasuk lingkungan perumahan.
Menurut Iqbal, tidak ada hambatan sejak masa persiapan hingga selesainya nobar. “Di kampung kami ada enam orang perwira menengah kepolisian. Tapi secara pribadi tidak ada penolakan dari mereka, Malah ada yang mendoakan: ‘semoga lancar, Pak RT,” katanya. [wir/suf]






