RINGKASAN BERITA:
- Jemaah haji Indonesia diimbau mengunci persiapan logistik mandiri berupa obat-obatan penting and APD cuaca panas tiga hari menjelang fase Armuzna.
- Wamenhaj Dahnil Anzar menyarankan jemaah membawa makanan ringan atau camilan praktis di dalam tas kantong untuk mengganjal perut.
- Kemenhaj RI melarang jemaah membawa barang bawaan berlebih yang dapat menghambat mobilitas tinggi selama prosesi mabit.
- Pemerintah menggaransi ketersediaan obat-obatan massal serta pasokan katering harian di setiap maktab Arafah dan Mina.
Makkah (beritajatim.com) – Tiga hari menjelang pendorongan massal jemaah haji Indonesia menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), pemerintah mengimbau seluruh jemaah untuk mematangkan persiapan fisik, mental, hingga efisiensi barang bawaan.
Jemaah diwajibkan membawa obat-obatan pribadi and alat pelindung diri (APD) guna menghadapi cuaca panas, namun dilarang keras membawa muatan berlebih yang dapat menghambat mobilitas tinggi selama prosesi puncak ibadah haji.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, panduan taktis mengenai manajemen tas jemaah ini dirilis oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, di Wehdah Al Khair Hotel, Makkah.
Jaminan kesiapan bekal mandiri ini dihadirkan untuk menghapus kecemasan pihak keluarga di tanah air, memastikan 203.320 jemaah haji reguler—termasuk rombongan asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur (Embarkasi Surabaya/SUB)—dapat menjaga kebugaran tubuh di tengah paparan suhu ekstrem Makkah yang menyentuh 47 derajat Celsius.
Dahnil menegaskan, faktor utama yang wajib melekat di dalam tas tenteng jemaah adalah persediaan medis berkala bagi mereka yang masuk dalam kategori risiko tinggi (risti). “Ya, pertama tentu obat-obatan penting. Jemaah dengan obat-obatan pribadi harus dibawa,” kata Dahnil usai menggelar sosialisasi akbar persiapan Masyair.
Obat dan Camilan Ganjal Perut
Selain aspek medis, pria yang dikenal sebagai orang dekat Presiden Prabowo Subianto ini menyelipkan pesan jenaka namun edukatif kepada rombongan jemaah haji asal Sumatera Utara yang sedang mengantre untuk berfoto bersama.
Jemaah disarankan membawa perbekalan makanan kering atau camilan kemasan yang praktis dikonsumsi saat berada di dalam Bus Shalawat khusus evakuasi.
“Kalau punya makanan-makanan kecil, kalau istilah orang Medan supaya ganjal-ganjal perut, supaya gak lapar kali, maka bisa dibawa. Tapi jangan kemudian yang merepotkan karena mereka mobilitasnya akan tinggi,” sebut Wamenhaj secara detail.
Dahnil meluruskan bahwa imbauan ini bukan berarti pemerintah lepas tangan terhadap pemenuhan logistik jemaah. Kemenhaj RI bersinergi dengan pihak syarikah telah mengunci sistem pertahanan pangan berupa 15 porsi katering makanan siap santap (ready to eat) Nusantara di dalam maktab, beriringan dengan jaminan intervensi gizi berupa enam porsi hotel yang didistribusikan berkala sejak Jumat (22/5/2026) oleh Naib Amirul Hajj kelompok KH Hasyim Asy’ari.
“Walaupun tentu Kementerian akan memaksimalkan kesediaan makanan yang secukupnya di Arafah, di Mina, termasuk di tempat-tempat penting di Armuzna,” jelasnya.
Mengingat pergeseran menuju Padang Arafah akan resmi dibuka pada Senin, 25 Mei 2026 (8 Dzulhijjah) mendatang, jemaah diminta disiplin menggunakan pelindung luar ruang selama prosesi wukuf.
Penggunaan payung, tabir surya (sunblock), alat semprot air, hingga pemilihan alas kaki yang empuk and berspesifikasi kokoh menjadi pelindung vital agar jemaah terhindar dari luka melepuh, kelelahan sirkular, maupun ancaman sengatan panas ekstrem (heatstroke).
“Jangan lupa bawa payung, kemudian sunblock, kemudian jangan lupa sendalnya yang digunakan adalah yang nyaman supaya kemudian bisa berjalan kaki dengan nyaman. Barang-barang seperti itu harus disediakan oleh jemaah untuk kesehatan dan untuk kenyamanan para jemaah,” tandas Dahnil Anzar. [ian/MCH]






