Ringkasan Berita:
- Bojonegoro menegaskan sektor migas dan pertanian dapat tumbuh berdampingan.
- Program EMCL membantu meningkatkan produktivitas padi petani hingga 8,1 ton per hektare.
- Sebanyak 654 petani dilibatkan dalam program pertanian ramah lingkungan di jalur pipa migas.
- EMCL juga membentuk koperasi petani untuk mendukung keberlanjutan ekonomi warga.
Bojonegoro (beritajatim.com) – Kabupaten Bojonegoro membuktikan statusnya sebagai salah satu pusat industri hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional tidak menggeser kekuatannya di sektor pertanian.
Sebaliknya, kolaborasi antara sektor migas dan pertanian justru memperkuat posisi Bojonegoro sebagai salah satu penghasil komoditas pertanian terbesar di Jawa Timur.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, saat melakukan pemaparan bersama perwakilan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dalam ajang Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (21/5/2026).
“Industri migas dan sektor pertanian bisa berjalan berdampingan serta saling berkolaborasi. Kami merasa sangat terbantu dengan adanya program kemasyarakatan dari ExxonMobil yang mampu ikut mendorong peningkatan produktivitas pertanian di Bojonegoro,” ujar Zaenal.
Ia menjelaskan, tantangan utama sektor pertanian di Bojonegoro terletak pada karakteristik tanah hitam yang memiliki kandungan Nitrogen organik rendah sehingga membutuhkan perlakuan khusus untuk menjaga kesuburan.
“Dibutuhkan kolaborasi semua pihak untuk mendorong penggunaan bahan organik guna mengembalikan kesuburan tanah. Di sisi lain, Dinas Pertanian juga terus memberikan bantuan alat mesin pertanian serta pelatihan pembuatan pupuk organik guna meningkatkan kapasitas dan kemandirian petani kita,” jelasnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pemaparan perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, terkait Program Pertanian Ramah Lingkungan yang dijalankan di sepanjang jalur pipa minyak hulu sepanjang 72 kilometer yang melintasi Bojonegoro dan Tuban.
Program tersebut menyasar petani penggarap lahan di sekitar koridor keselamatan pipa atau Right of Way (RoW).
Khusus di wilayah Bojonegoro, tercatat sebanyak 654 petani terlibat aktif dalam program tersebut.
Menurut Slamet, keberhasilan menjaga kelancaran pasokan energi nasional tidak terlepas dari dukungan masyarakat dan petani di sekitar wilayah operasi migas.
“Selama EMCL beroperasi, kelancaran operasional tanpa insiden di sepanjang 72 kilometer jalur pipa hulu ini dapat tercapai berkat dukungan luar biasa dari para pemangku kepentingan dan masyarakat sekitar. Melalui program kemitraan ini, EMCL, relawan, dan para petani penggarap lahan terus bersinergi agar keamanan serta keselamatan pipa sebagai Objek Vital Nasional tetap terjaga bersama,” tegasnya.
Melalui pendampingan pertanian ramah lingkungan, biaya pengolahan lahan petani berhasil ditekan hingga 25 hingga 30 persen.
Tak hanya itu, produktivitas panen padi di wilayah Bojonegoro juga meningkat signifikan dari rata-rata 6,6 ton per hektare menjadi 8,1 ton per hektare.
Program tersebut juga dinilai efektif meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keselamatan operasional migas.
EMCL bersama para petani rutin memberikan edukasi mengenai aktivitas yang diperbolehkan dan dilarang di area jalur pipa.
Selain itu, dibentuk pula 76 “Petani Pelopor” untuk membantu menjaga keamanan kawasan jalur pipa migas.
Salah satu capaian yang dicatat yakni keberhasilan menekan angka pembakaran sampah maupun jerami di atas jalur pipa hingga nol kasus pada tahun 2026.
Untuk mendukung keberlanjutan ekonomi warga, program tersebut juga menginisiasi pembentukan Koperasi Manunggal Agro Lestari yang resmi berbadan hukum pada 2025.
Koperasi tersebut menjadi wadah bagi petani dalam mengelola usaha pertanian dan memperkuat rantai pasok hasil panen secara mandiri. [lim/beq]






