Ringkasan Berita:
- Pemda diminta menyusun strategi komunikasi berbasis data dan riset di era digital.
- Trainer Google AI Local Media Community Suara.com memberikan pelatihan pemanfaatan AI untuk humas pemerintah.
- Google Trends dinilai efektif membantu pemda membaca minat publik dan strategi promosi daerah.
- Media sosial pemerintah didorong menjadi ruang komunikasi dua arah yang interaktif.
Semarang (beritajatim.com) – Pemerintah daerah (Pemda) di era digital dituntut tidak sekadar mempublikasikan informasi, tetapi juga membangun strategi komunikasi publik berbasis data dan riset yang kuat agar pesan yang disampaikan lebih efektif dan tepat sasaran.
Hal itu menjadi fokus utama dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Website dan Media Sosial untuk Pemerintah Daerah yang digelar sebagai rangkaian pembuka Jateng Media Summit 2026 di Hotel Khas Semarang, Rabu (20/5/2026).
Workshop tersebut menghadirkan empat pemateri yang merupakan Trainer Google AI Local Media Community dari Suara.com, yakni Rendy Adrikni Sadikin, Chandra Iswinarno, Agung Pratnyawan, dan Elga Maulina Putri.
Mereka memberikan pelatihan intensif terkait pemanfaatan data dan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu optimalisasi kinerja humas pemerintah daerah dalam mengelola website dan media sosial.
Rendy Adrikni Sadikin menegaskan bahwa fondasi utama setiap rilis atau berita yang dipublikasikan di website pemerintah daerah harus didasarkan pada data yang valid dan hasil riset yang kuat.
Menurutnya, narasi komunikasi publik yang tidak memiliki basis data yang jelas akan mudah kehilangan dampak dan kepercayaan publik.
“Penggunaaan data, hasil riset penting untuk menyampaikan rilis yang nantinya menjadi berita di media-media maupun website milik pemerintah daerah,” ujar Rendy.
Senada dengan itu, Chandra Iswinarno menilai perkembangan teknologi saat ini memungkinkan pemerintah daerah memanfaatkan berbagai perangkat digital untuk mempercepat proses pengolahan data dan analisis informasi.
“Alat untuk mempercepat dalam membaca data juga bisa dilakukan, dan lengkap dengan sitasi atau sumber,” jelas Chandra.
Dalam sesi praktik, Agung Pratnyawan mendemonstrasikan penggunaan tools seperti Google Trends untuk membantu pemerintah daerah menyusun strategi konten yang sesuai dengan minat dan perilaku publik.
Ia mencontohkan bagaimana perilaku pencarian informasi wisata di Jawa Tengah ternyata berbeda antara masyarakat lokal dan masyarakat luar daerah.
“Riset adalah suatu hal yang penting, tools AI bisa digunakan. Paling gampang menggunakan google trend, kita bisa lihat wisata yang paling banyak dicari di Jawa Tengah, kita lihat orang jateng paling banyak mencari informasi di Bandungan, namun orang di luar jawa tengah seperti Jakarta itu melihat Borobudur,” papar Agung.
Menurutnya, data pencarian tersebut dapat dimanfaatkan lebih jauh untuk menentukan momentum promosi wisata yang tepat dan lebih efektif.
“Bila kita tarik lebih jauh, informasi Borobudur paling banyak dicari pada bulan Mei, sementara Dieng di bulan Juli. Maka itu bisa menjadi strategi,” tambahnya.
Sementara itu, Elga Maulina Putri menyoroti pentingnya pola komunikasi dua arah dalam pengelolaan media sosial pemerintah. Ia menilai media sosial tidak lagi bisa digunakan sekadar sebagai papan pengumuman kegiatan formal pemerintah.
“Media social adalah saluran komunikasi dua arah, butuh konten-konten menarik. Meskipun ujungnya komentarnya negatif, tapi itu tidak apa-apa daripada tidak ada komentar sama sekali,” tegas Elga.
Ia juga mendorong pemerintah daerah memanfaatkan format konten digital yang sedang diminati publik untuk meningkatkan keterlibatan atau engagement masyarakat.
“Konsep media yang bisa dimanfaatkan adalah Reels, Feed Carousel, dan Live Streaming,” pungkasnya.
Setelah sesi Bimtek tersebut, puncak kegiatan Jateng Media Summit 2026 dijadwalkan berlangsung pada Kamis (21/5/2026) dengan menghadirkan berbagai agenda diskusi mengenai transformasi media dan komunikasi publik di era digital. [beq]






