Jember (beritajatim.com) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghendaki semua lembaga pendidikan berbasis agama, termasuk yang memiliki asrama, untuk memperhatikan aspek kebencanaan. Aspek-aspek ini antara lain meliputi bangunan, kontur, dan ketersediaan jalur evakuasi.
“Yang paling dia harus paham risiko di situ ada apa,” kata Pelaksana Tugas Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pangarso Suryotomo, usai membuka acara konsolidasi dan penguatan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Wilayah Badan Koordinator Wilayah Jember, Jawa Timur, di kantor Bakorwil Jember, Rabu (20/5/2026).
Dari sini BNPB mendorong terbitnya kebijakan pembentukan lembaga pendidikan agama tangguh. “Karena untuk di sekolah, kami sudah punya satuan pendidikan aman bencana,” kata Pangarso.
Pangarso mengatakan, sebagian bangunan lembaga pendidikan berbasis agama yang memiliki asrama tidak memiliki jalur evakuasi. “Juga belum ada ‘champion’ di tempat itu yang paham kalau terjadi bencana harus melakukan apa,” katanya.
“Jadi kita mencari ‘champion’ lokal untuk memastikan cara bagaimana mengajak orang melakukan evakuasi, mempersiapkan tempat evakuasi, dan sebagainya,” tambah Pangarso.
BNPB saat ini sedang berkonsultasi dengan Kementerian Agama agar lembaga-lembaga pendidikan lintas agama memuliki konsep yang sama untuk penanganan kebencanaan. Ini akan melengkapi rumah ibadah tangguh bencana yang sudah digagas sebelumnya.
“Sekarang sudah banyak masjid tangguh, paroki tangguh, gereja tangguh. Ini bagian dari yang kita kuatkan. Jadi kita menjadi konektor dengan semua pihak. Tidak semua harus dilakukan oleh pemerintah, hanya oleh BNPB dan BPBD. Tapi semua pihak bisa melakukan yang sama,” kata Pangarso.
Acara konsolidasi dan penguatan FPRB di Bakorwil Jember ini didukung oleh Program Siap Siaga, kemitraan Indonesia – Australia untuk penanggulangan bencana. Kegiatan ini bentuk komitmen Program Siap Siaga dalam mendukung penguatan Forum PRB sebagai wadah koordinasi pentaheliks bencana, yang diharapkan dapat membawa misi kolaborasi dalam penanggulangan bencana di Jawa Timur. [wir/aje]






