Ringkasan Berita:
- Samanhudi Anwar resmi terpilih sebagai Ketua KONI Kota Blitar periode 2026-2030.
- Ia menang dengan perolehan 22 suara mengungguli Tony Andreas.
- Samanhudi menyentil dugaan intervensi atau “cawe-cawe” Pemkot Blitar dalam pemilihan.
- Mantan Wali Kota Blitar itu menegaskan KONI harus independen dan dipimpin putra daerah.
Blitar (beritajatim.com) – Mantan Wali Kota Blitar, Samanhudi Anwar, resmi terpilih sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Blitar periode 2026-2030 dalam Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot), Selasa (19/5/2026).
Dalam pemilihan tersebut, Samanhudi meraih 22 suara dan unggul atas rivalnya, Tony Andreas, yang memperoleh 15 suara.
Usai dinyatakan menang, Samanhudi langsung melontarkan pernyataan keras terkait dugaan intervensi atau “cawe-cawe” dari Pemerintah Kota Blitar dalam proses pemilihan Ketua KONI.
“Saya sayangkan kenapa Pemda terlalu intervensi. Enggak perlu kita (KONI) dan dinas-dinas, khususnya Wali Kota, ikut-ikut ini. Biarkan berjalan alami,” tegas Samanhudi.
Ia menegaskan kritik tersebut ditujukan secara kelembagaan kepada pemerintah daerah, bukan kepada sosok tertentu secara personal.
Menurutnya, selama ini KONI Kota Blitar kerap dianggap hanya mengikuti kehendak pemerintah daerah. Namun hasil Musorkot kali ini disebut menjadi bukti bahwa insan olahraga masih memiliki independensi.
“Tapi sekarang jagonya pemerintah daerah kan kalah. Ini membuktikan kekuatan rakyat dan insan olahraga di Kota Blitar masih ada,” imbuhnya.
Samanhudi mengaku sebenarnya tidak memiliki ambisi untuk maju sebagai Ketua KONI Kota Blitar. Namun dorongan dari sejumlah cabang olahraga membuat dirinya akhirnya bersedia maju dalam pemilihan.
Ia menyebut banyak insan olahraga menginginkan KONI dipimpin oleh sosok putra daerah yang memahami kondisi olahraga di Kota Blitar.
“Ini menurut saya grade saya sebenarnya turun, dari Wali Kota jadi Ketua KONI. Tapi ini soal marwah. KONI harus dipimpin putra daerah, kita punya banyak orang berkualitas, tidak perlu adopsi dari luar,” jelasnya.
Menanggapi isu mengenai kemungkinan pemotongan anggaran KONI apabila dirinya terpilih, Samanhudi menegaskan pengelolaan anggaran daerah memiliki mekanisme hukum yang jelas.
Ia mengingatkan bahwa kebijakan anggaran tidak bisa diputuskan secara sepihak karena melibatkan pemerintah daerah, DPRD, hingga pemerintah provinsi.
“Jangan mengancam ‘nanti kalau menang Samanhudi tidak dikasih dana’. Enggak boleh begitu. Semuanya ada aturannya, tergantung Dewan dan Gubernur juga. Tiga pilar pelaku olahraga, legislatif, dan pemerintah harus sinkron,” tuturnya.
Di akhir pernyataannya, Samanhudi menyebut kemenangan yang diraihnya merupakan bentuk dukungan nyata dari insan olahraga Kota Blitar.
“Suara rakyat adalah suara Tuhan. Itu yang terpenting bagi saya sekarang,” pungkasnya. [owi/beq]






