Jombang (beritajatim.com) – Di bawah terik matahari, Abdurrohim (64) dan istrinya, Sriyatin (61), duduk bersimpuh di lantai keramik, khidmat membaca tahlil di makam Gus Dur, sang tokoh pluralisme bangsa. Mata mereka sesekali terpejam, larut dalam lantunan doa, seolah hanya suara hati yang terdengar. Kehadiran puluhan biksu dari berbagai negara Asia Tenggara tidak mengganggu khusyuk mereka.
Para biksu, yang baru menempuh perjalanan sekitar 7–8 kilometer dari Pendapa Kabupaten Jombang ke Tebuireng, perlahan duduk di belakang dan di samping pasutri asal Mojoagung itu. Beberapa menatap penuh hormat pasangan yang masih asyik melafalkan kalimat illahi, sementara yang lain melepas penat setelah perjalanan panjang. Semua berjalan beriringan, selaras dalam ketenangan.
Saat tahlil Abdurrohim selesai, ia menutup buku kecilnya. Tanpa aba-aba, biksu-biksu itu bergeser ke depan, mendekat ke pusara Gus Dur. Mereka terbagi menjadi dua barisan: yang pertama berada di dalam pagar, duduk bersila berjajar memanjang di dekat pusara, di mana Gus Riza, sepupu Gus Dur, juga hadir di tengah, seolah mengawasi doa yang mengalir.
Barisan kedua menempati area luar pagar, di pendapa makam, dengan salah satu dari mereka memimpin doa dalam nada yang naik-turun, harmonis—simbol kerukunan lintas agama yang selalu dihidupkan Gus Dur.
“Saya tidak terganggu meski ada umat agama lain berziarah di makam Gus Dur. Gus Dur dikenal sebagai tokoh pluralisme. Malah senang semuanya rukun,” ujar Abdurrohim dengan senyum teduh ketika diminta komentarnya.
Bhante Tejapunnyo, ketua rombongan 57 biksu, menjelaskan perjalanan damai mereka akan berlangsung puluhan hari, dimulai dari Brahmavihara-Arama, Buleleng, Bali, pada 9 Mei 2026, hingga berakhir di Candi Borobudur pada perayaan Trisuci Waisak, 31 Mei 2026. Para biksu datang dari Malaysia, Laos, Thailand, dan Indonesia.

“Hari ini kita melakukan doa bersama di makam Gus Dur. Tidak ada kalimat yang lebih baik selain doa,” ujar Bhante Tejapunnyo, asal Banyuwangi. Baginya, Gus Dur adalah guru bangsa, pahlawan pluralisme yang jasa-jasa dan kenangannya selalu diingat oleh umat Budha.
Di makam yang sarat makna itu, tahlil dari Mojoagung dan doa dari Asia Tenggara menyatu. Sebuah harmoni yang menegaskan bahwa di tempat peristirahatan Gus Dur, agama dan bangsa bertemu dalam doa, damai, dan rasa hormat. [suf]






