Makkah (beritajatim.com) – Dada Jumaria berdebar kencang saat langkah kakinya menyentuh lantai marmer pelataran Masjidil Haram yang sejuk.
Di bawah langit Makkah, ia menyeka sudut matanya yang basah menggunakan ujung kerudung hitam yang mulai kusam oleh peluh.
Ketika netranya menangkap sebentuk kubus anggun terbungkus kain kiswah hitam di pusat semesta, pertahanan hatinya runtuh. Air matanya tumpah ruah menembus rindu yang telah ia asuh dalam kesunyian selama puluhan tahun.
Itulah pemandangan yang selalu ia pinta dalam sujud-sujud panjangnya sejak sang suami berpulang. Sejak dunia meninggalkannya sebatang kara, praktis hanya keteguhan iman yang menemani perempuan lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan ini menjalani sisa hidup.
“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucap Jumaria lirih.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, saat ditemui di Asrar al Tayseer Hotel Makkah tempat jemaah kloter UPG 14 menginap, perempuan berusia 70-an tahun ini kembali menangis. Ingatannya melayang pada sepetak sawah 15 are miliknya di kampung halaman.
Di tanah Maros yang terpencil, Jumaria adalah lambang ketabahan. Saban hari selepas Subuh, ia membelah fajar untuk memberi makan ayam-ayamnya, memasak hidangan sederhana, lalu berjalan ke kebun ubi milik tetangga yang mempercayakan perawatan kepadanya dengan upah tak seberapa.
Tak berhenti di sana, tubuh rentanya harus berpindah ke sawah sejauh 50 meter untuk menyiangi padi sendirian. “Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai sabit, kalau sekarang sudah dibantu mesin,” kenangnya seraya memamerkan senyum manis yang memperlihatkan deretan gusi ompongnya.
Ember Bawah Ranjang
Jumaria sadar, kemiskinan raga tak boleh membuatnya miskin mimpi. Maka, sejak dua dekade silam, ia memulai sebuah ritual sunyi: menyembunyikan lembaran uang receh hasil keringatnya ke dalam sebuah ember di bawah kolong tempat tidur.
“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember,” tuturnya pelan. Jika ia mendapatkan upah Rp110 ribu, sebanyak Rp50 ribu akan langsung masuk ke dalam ember penggenap mimpi, tanpa pernah ia utak-atik meski perutnya seringkali harus berdamai dengan rasa lapar.
Perempuan yang tak pernah mengenyam bangku sekolah dan buta aksara ini akhirnya berhasil menyentuh angka Rp25 juta pada tahun 2011. Didampingi kemenakan jauhnya, ia mendaftarkan diri ke kantor agama setempat. Sejak hari itu, ember di bawah kolong kasurnya kembali menjadi saksi perjuangannya melunasi sisa biaya yang tersisa.
Keteguhan hati Jumaria terus menyala hingga musim Haji 2026 tiba. Selama masa persiapan, ia tercatat mengikuti lebih dari 80 kali sesi manasik haji tanpa pernah absen satu kali pun. Jarak 15 kilometer dari gubuknya menuju lokasi bimbingan ia tempuh dengan berjalan kaki dan menumpang kendaraan seadanya, demi bisa duduk di barisan paling depan mendengarkan tuntunan muthawwif.
Mimpi Dari Sawah Maros
Dedikasi luar biasa ini akhirnya mengendus perhatian pihak Kementerian Haji dan Umrah. “Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, kemudian di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi,” jelas Ketua Kloter UPG 14, Sitti Hawaisyah.
Tepat pada 28 April lalu, sebuah tim dokumenter internasional bertandang ke rumah sederhananya. Hanya dalam waktu empat jam, rekaman visual mengenai kehidupannya yang bersahaja selesai diproduksi. Video singkat tersebut kini resmi menjadi bagian dari media promosi internasional otoritas Arab Saudi untuk menyambut musim Haji 2026.
Tiga hari setelah syuting berakhir, untuk pertama kali dalam hidupnya, Jumaria merasakan sensasi membelah awan di dalam burung besi menuju Madinah. “Sempat ada rasa takut waktu naik, tapi setelah itu nyaman,” akunya polos.
Di Kota Nabi, stamina Jumaria justru membuat takjub jemaah yang berusia jauh lebih muda. Ia sanggup berdiam diri membasahi bibir dengan zikir di Masjid Nabawi sejak waktu Asar hingga Isya tuntas. Tanpa menggenggam ponsel, ia pasrah diselipkan di antara rombongan hingga berhasil memasuki taman surga Raudhah.
Ketangguhan fisik itu berlanjut hingga ke Makkah. Sejak tiba pada Sabtu (9/5), ia telah merampungkan tiga kali ibadah umrah—satu umrah wajib dan dua umrah sunnah—tanpa keluhan medis sedikit pun.
Marwati, rekan sekamar sekaligus tetangganya di Maros, hanya bisa menggelengkan kepala melihat vitalitas sang nenek. “Selama umrah itu beliau paling semangat, kita ini sudah kecapekan, beliau masih segar bugar,” cetus Marwati.
Saat Sitti Hawaisyah memperlihatkan kartu identitas kesehatan jemaah lain yang dipenuhi tanda merah pertanda riwayat penyakit kronis, kartu milik Jumaria bersih total. Ketika ditanya apa jimat kebugarannya, Jumaria menjawab ringkas, “Ke sawah setiap hari, juga banyak minum air.”
Kini, di bawah bayang-bayang menara batu Kota Makkah, Jumaria mulai menghitung hari. Sembilan hari lagi, gurun Arafah akan menjadi saksi tempat ia melarungkan seluruh sisa doa dan kerinduan yang telah ia simpan rapat di dalam ember lusuhnya selama dua puluh tahun terakhir. [ian/MCH]






