Yogyakarta (beritajatim.com)- Mahasiswa Program Studi S1 Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menghadirkan inovasi kreatif melalui gelaran fashion art jewelry yang menjadi bagian dari tugas akhir semester mata kuliah perhiasan.
Berbeda dari tahun sebelumnya, penyelenggaraan kali ini dikemas lebih serius dengan menampilkan konsep perhiasan sebagai media ekspresi seni. Tidak hanya berfokus pada estetika, karya mahasiswa juga membawa pesan sosial, lingkungan, hingga isu perempuan.
Mata kuliah tersebut dibimbing oleh Dra. Titiana Irawani, M.Sn, Dr. Alvi Lufiani, M.F.A, dan Febrian Wisnu Aji, M.Sn. Para mahasiswa diberikan kebebasan mengeksplorasi material dalam menciptakan karya, termasuk memanfaatkan bahan limbah dan material daur ulang.
Penggunaan bahan nonkonvensional itu menjadi daya tarik tersendiri dalam pertunjukan. Mahasiswa tidak terpaku pada penggunaan emas, perak, atau platinum, tetapi mencoba menghadirkan perspektif baru tentang dunia perhiasan modern.
“Perhiasan tidak hanya dipandang sebagai objek jual beli di toko, tetapi juga sebagai karya seni yang bisa menyampaikan gagasan,” ungkap salah satu dosen pengampu Dr Alvi Lufiani, M.F.A.
[irp posts=”1507924″ ]
Sebanyak 64 mahasiswa dari dua kelas ikut ambil bagian dalam fashion show tersebut. Beragam tema diangkat dalam karya mereka, mulai dari biota laut seperti octopus, eksplorasi alam, hingga refleksi tentang perempuan.
Ketua panitia, Puri Alya Maharani, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa kriya untuk menunjukkan identitas artistik masing-masing.
“Mahasiswa dari berbagai bidang kriya seperti metal, tekstil, kulit, kayu, hingga keramik berusaha menciptakan karya yang tidak hanya indah dilihat, tetapi juga memberikan pengalaman visual dan emosional,” katanya.
Menurutnya, antusiasme peserta sangat tinggi karena mereka bebas menghadirkan ide-ide eksperimental dalam bentuk fashion jewelry. Setiap karya juga menjadi bagian dari penilaian tugas akhir mahasiswa pada mata kuliah perhiasan.
Tak hanya berhenti di ruang kelas, sejumlah karya terbaik nantinya akan dipamerkan kembali dalam agenda Dies Natalis FSRD ISI Yogyakarta.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa ISI Yogyakarta ingin menunjukkan bahwa perhiasan bukan sekadar aksesori pelengkap penampilan. Di tangan para perupa muda, perhiasan mampu berubah menjadi karya seni kontemporer yang memiliki nilai artistik sekaligus pesan mendalam. [aje]






