Ringkasan Berita:
- Banyuwangi memaparkan progress Smart Kampung dalam rakor persiapan ASCN Annual Meeting 2026 di Jakarta.
- Program Smart Kampung mengintegrasikan TIK, ekonomi kreatif, pelayanan publik, dan pengentasan kemiskinan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
- Banyuwangi menjadi contoh penerapan Living Intelligence dengan solusi digital dan inovasi masyarakat untuk kota cerdas inklusif, hijau, dan berkelanjutan.
Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi mendapatkan kesempatan memaparkan progress Program Smart Kampung dalam rapat koordinasi (rakor) Persiapan The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting di Jakarta, Rabu (13/4/2026).
Paparan ini menjadi salah satu best practise penerapan Smart City yang akan ditampilkan pada pertemuan ASCN Juli mendatang di Filipina.
ASEAN Smart Cities Network (ASCN) adalah organisasi kolaboratif antar kota di sepuluh negara anggota ASEAN yang bertujuan mendorong pembangunan perkotaan cerdas, berkelanjutan, dan inklusif. Sejak 2018, Banyuwangi menjadi Pilot Cities ASCN bersama Makassar dan DKI Jakarta.
“Banyuwangi terus melakukan progres menjadi daerah cerdas tidak hanya bertransformasi menjadi kota digital tapi juga menjadi kota cerdas yang inklusif, hijau, inovatif dan berkelanjutan,” kata Bupati Ipuk.
Ia menambahkan, ASCN membuka peluang perluasan jejaring kerja sama yang lebih konkret dengan kota-kota anggota, sektor swasta, mitra pembangunan, maupun skema sister city.
“Bagi Banyuwangi, ASCN tidak hanya penting sebagai forum berbagi pengalaman, tetapi juga sebagai pintu untuk membuka kolaborasi nyata baik bidang pelayanan publik, ekonomi digital, pengelolaan lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi baru untuk mendukung tata kelola kota cerdas. Terima kasih pada pemerintah pusat yang memberikan kesempatan ini pada Banyuwangi,” lanjutnya.
Sementara itu, Director Smart Cities and Communities Innovation Center ITB, Suhono Harso Supangkat, menekankan Indonesia sebagai ASEAN Shepherd ASCN periode 2025–2027 harus melangkah dari smart city berbasis teknologi menuju Living Intelligence, yaitu jaringan cerdas yang adaptif dan mampu menyelesaikan masalah warga sehari-hari.

“Kita melihat Banyuwangi sebagai salah satu contohnya dimana daerah ini berhasil menerapkan Smart Kampung untuk meningkatkan pelayanan publik hingga mengubah sampah menjadi PAD melalui BLUD,” ujar Suhono.
Asisten Administrasi Umum sekaligus Plt. Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Banyuwangi, Budi Santoso, menjelaskan bahwa Smart Kampung merupakan program pengembangan desa terintegrasi yang memadukan TIK dengan kegiatan ekonomi produktif dan kreatif, peningkatan pendidikan dan kesehatan, pelayanan publik, serta pengentasan kemiskinan.
“Program Smart Kampung untuk memudahkan pelayanan publik hingga tingkat desa, yang dipadu dengan pemberdayaan. Ujungnya adalah meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi warga,” kata Budi.
Implementasi Smart City Banyuwangi kini tidak hanya fokus pada digitalisasi layanan publik, tetapi juga mendorong ekonomi digital melalui penguatan UMKM dalam promosi produk, pemasaran online, pencatatan usaha, dan transaksi non tunai.
Program ini juga menginisiasi lahirnya ide kreatif anak muda, komunitas digital, dan inovator lokal lewat kegiatan Jagoan Banyuwangi dan Hacking Day, serta mendorong pengelolaan sampah terpadu yang melibatkan warga hingga tingkat desa.
“Dengan begitu solusi digital dan permasalahan sosial tidak selalu datang dari pemerintah tetapi juga tumbuh dari masyarakat,” pungkas Budi. [alr/suf]






