RINGKASAN BERITA:
- Persoalan kartu Nusuk merah dipicu oleh input data ganda setelah riwayat kehilangan data pascavisa.
- Sistem internal Indonesia menunjukkan status aman, namun sistem kepolisian Saudi membaca dua identitas.
- Syarikah Rakeen tengah memperbaiki sistem atau menyiapkan opsi penukaran kartu baru bagi jemaah.
- Jemaah dan petugas diimbau selalu membawa print-out visa sebagai rujukan resmi saat pemeriksaan.
Makkah (beritajatim.com) – Penyebab kartu Nusuk petugas dan jemaah haji terdeteksi berwarna merah saat dipindai aparat keamanan Arab Saudi diduga kuat dipicu oleh adanya data ganda dalam sistem informasi perhajian. Masalah teknis ini muncul setelah sejumlah data jemaah dan petugas diinput ulang akibat kendala kehilangan data pasca-penerbitan visa, sehingga sistem membaca adanya dua identitas berbeda pada satu individu yang sama.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, koordinasi intensif antara pemerintah Indonesia, Kementerian Haji Arab Saudi (Kemenhaj), dan pihak syarikah Rakeen telah menemukan titik terang terkait anomali tersebut. Direktur Bina Petugas Haji Reguler, Chandra Sulistio Reksoprodjo, menjelaskan bahwa pola ini banyak ditemukan pada jurnalis dan petugas yang visanya sempat mengalami gangguan teknis.
“Waktu itu teman-teman MCH sudah keluar visa, lalu datanya sempat hilang. Karena hilang, kami diminta memasukkan lagi datanya. Akhirnya di sistem terbaca dua kali,” kata Chandra saat memberikan keterangan di Media Center Haji (MCH) Mekah, Kamis (14/5/2026).
Kondisi ini menyebabkan perbedaan pembacaan status antara sistem internal Indonesia dengan sistem milik otoritas keamanan Arab Saudi. Meskipun secara administratif jemaah dinyatakan aman dalam sistem pengawasan Indonesia (indikator hijau), aparat keamanan di lapangan justru mendapati indikator merah saat melakukan pemindaian kartu.
“Kalau di sistem kita hijau. Tetapi karena ada dua data, akhirnya di sistem polisi terbaca merah,” ujar Chandra. Ia menambahkan bahwa aparat keamanan Arab Saudi bahkan sempat mengonfirmasi langsung adanya dua identitas berbeda dalam data jemaah yang bersangkutan akibat perbedaan nomor visa antara input data lama dan baru.
“Polisi sempat bilang ada dua identitas. Itu karena datanya pernah hilang lalu dimasukkan lagi dengan data yang sama,” jelasnya.
Saat ini, pihak Kemenhaj dan syarikah Rakeen tengah berupaya melakukan perbaikan pada pusat data (database) untuk menghapus data ganda tersebut tanpa harus mengganti kartu fisik Nusuk. Namun, opsi penggantian kartu tetap disiapkan sebagai langkah terakhir jika integrasi sistem tidak kunjung membaik.
“Rakeen sedang mencoba memperbaiki sistemnya terlebih dahulu. Kalau nanti tidak bisa diperbaiki, kemungkinan kartunya akan ditukar baru,” tutur Chandra.
Sebagai langkah mitigasi instan agar pergerakan jemaah dan petugas di Tanah Suci tidak terhambat pemeriksaan polisi, jemaah diimbau untuk selalu membawa salinan fisik atau print-out visa haji. Dokumen fisik ini menjadi rujukan legal yang sangat vital jika kartu Nusuk mengalami kendala pemindaian di lapangan.
“Tetap bawa print out visa karena nomor visa itu bisa menjadi rujukan bahwa visa jemaah resmi,” pungkasnya. Chandra juga mengingatkan bahwa kemungkinan kasus serupa dapat menimpa jemaah reguler atau petugas lainnya jika memiliki riwayat input data ganda di masa pemberangkatan. [ian/MCH]






