Ringkasan Berita:
- Kota Mojokerto berhasil menurunkan angka stunting menjadi 0,92 persen pada 2026 melalui program inovatif dan kolaborasi lintas sektor.
- Pemprov NTB melakukan kunjungan studi tiru untuk mempelajari strategi penanganan stunting di Mojokerto.
- Keberhasilan ini didukung oleh 1.619 kader motivator kesehatan dan inovasi program seperti Canting Gula Mojo dan Gempa Genting.
Mojokerto (beritajatim.com) – Keberhasilan Kota Mojokerto menurunkan angka stunting hingga di bawah satu persen menjadi sorotan daerah lain di Indonesia. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bahkan datang langsung untuk mempelajari strategi penanganan stunting yang diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto.
Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri bersama rombongan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) NTB melakukan kunjungan studi tiru ke Kota Mojokerto dan diterima langsung Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari di Sabha Mandala Madya Balai Kota Mojokerto, Rabu (13/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Wagub NTB mengaku tertarik dengan keberhasilan Kota Mojokerto yang mampu menurunkan angka stunting secara signifikan melalui berbagai program dan inovasi lintas sektor.
“Kami hadir di sini ingin mengetahui langsung, Kota Mojokerto dengan sejumlah intervensi dan program keroyokan yang dilaksanakan secara bersama mendapatkan angka penurunan stunting yang cukup tinggi. Salah satu kekuatan Kota Mojokerto terletak pada banyaknya inovasi yang dijalankan,” katanya.
Indah menekankan bahwa inovasi tersebut dijalankan hingga tingkat bawah serta melibatkan semua pihak. “Kesungguhan hati, pola pendekatan dan sentuhan langsung dari pimpinan sampai ke tingkat bawah jauh lebih penting untuk menunjukkan kesuksesan dari setiap program,” tambahnya.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari menjelaskan bahwa Pemkot fokus pada pembangunan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui penguatan layanan kesehatan secara terintegrasi. Intervensi dilakukan mulai dari pemantauan kesehatan remaja putri, pendampingan calon pengantin, pemeriksaan ibu hamil, pendampingan ibu pasca melahirkan, hingga pemantauan tumbuh kembang balita.
Pemkot Mojokerto juga menjalankan sejumlah inovasi, seperti program Canting Gula Mojo, Gempa Genting, dan penguatan kader motivator kesehatan di seluruh wilayah kota.
Berdasarkan data Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (ePPGBM), angka stunting di Kota Mojokerto terus menurun dari 4,84 persen pada 2021 menjadi 0,92 persen pada 2026.
Atas capaian tersebut, Pemkot Mojokerto memperoleh insentif fiskal sebesar Rp6,3 miliar dari pemerintah pusat.
“Penurunan stunting Kota Mojokerto signifikan setiap tahun dan akhir 2025 kami mendapat insentif fiskal Rp6,3 miliar dari pemerintah pusat. Kami punya 1.619 kader motivator kesehatan, 99 persen perempuan, yang menjadi ‘tentara’ penggerak kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Selain itu, Kota Mojokerto telah menjalankan program pemenuhan gizi masyarakat melalui Gempa Genting sebelum pemerintah pusat meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kunjungan studi tiru dari Pemprov NTB diharapkan memperkuat kolaborasi antardaerah untuk mempercepat penurunan stunting di Indonesia. [tin/suf]






