Ringkasan Berita:
- MBMA mengembangkan fasilitas AIM untuk memperkuat ekonomi sirkular bahan baku baterai kendaraan listrik.
- Fasilitas ini memanfaatkan limbah bijih pirit dari Tambang Tembaga Wetar menjadi bahan baku industri HPAL.
- Strategi tersebut mendukung efisiensi rantai pasok mineral nasional sekaligus pengelolaan lingkungan.
- MBMA juga mencatat berbagai capaian ESG dan sertifikasi lingkungan hingga akhir 2025.
Jakarta (beritajatim.com) – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memperkuat penerapan ekonomi sirkular dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik melalui pengembangan fasilitas pengolahan Acid Iron Metal (AIM) yang dibangun oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI).
Langkah strategis ini menjadi bagian dari komitmen MBMA dalam mendukung pertumbuhan industri kendaraan listrik nasional melalui efisiensi pemanfaatan sumber daya mineral sekaligus penguatan keberlanjutan operasional perusahaan.
Fasilitas AIM dikembangkan oleh MTI, perusahaan patungan antara MBMA dan Eternal Tsingshan Group Limited, dengan memanfaatkan bijih pirit sisa hasil pengolahan Tambang Tembaga Wetar yang dioperasikan anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk, Teddy Oetomo, menegaskan perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan tanggung jawab lingkungan.
“Pengembangan industri kendaraan listrik perlu didukung rantai pasok yang semakin efisien dan bertanggung jawab. Melalui integrasi operasional yang kami bangun, MBMA ingin mendorong praktik tersebut secara bertahap,” ujar Teddy.
Dalam prosesnya, fasilitas AIM mengolah bijih pirit menjadi asam sulfat dan uap yang kemudian digunakan sebagai bahan baku produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL).
Integrasi tersebut memungkinkan MBMA mengoptimalkan kembali material tambang yang sebelumnya menjadi residu, sehingga memperkuat prinsip ekonomi sirkular di sektor pertambangan dan industri baterai kendaraan listrik.
Selain memperkuat efisiensi rantai pasok bahan baku baterai, MBMA juga terus meningkatkan standar pengelolaan lingkungan di seluruh lini operasionalnya.
Hingga akhir 2025, seluruh entitas operasional MBMA telah mengantongi sertifikasi ISO 14001:2015 sebagai bentuk implementasi sistem manajemen lingkungan berstandar internasional.
Perusahaan juga membentuk Tim Manajemen Energi di PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) dan MTI untuk mendorong efisiensi energi serta pengurangan emisi yang lebih terintegrasi.
Sepanjang 2025, komitmen keberlanjutan MBMA mendapat pengakuan dari berbagai lembaga independen, termasuk mempertahankan Gold Rank dalam Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025.
MBMA juga meraih predikat “Verified” dalam Indeks Integritas Bisnis Lestari (INSTAR) 2025 dengan skor tertinggi di sektor basic materials, serta berhasil meningkatkan penilaian Sustainalytics ESG Risk Rating menjadi 34,07 dari sebelumnya 35,20.
Pengembangan fasilitas AIM menegaskan posisi MBMA sebagai salah satu pemain strategis dalam pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik Indonesia yang lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan. [rea/beq]






