Surabaya (beritajatim.com)- Bagi masyarakat Indonesia, memilih antara nasi putih dan nasi merah sering menjadi pilihan yang membingungkan. Nasi putih sudah familiar dan lama disukai karena teksturnya yang pulen, sementara nasi merah belakangan makin populer karena dianggap lebih sehat.
Perbedaan utama keduanya ada pada proses pengolahannya. Nasi merah masih memiliki bagian lengkap dari biji padi, yaitu kulit ari, endosperma, dan lembaga. Sedangkan nasi putih sudah melalui proses penggilingan yang menghilangkan kulit ari dan lembaga, sehingga hanya tersisa bagian dalam yang kaya pati.
Dari segi nutrisi, nasi merah lebih unggul. Kandungan serat, vitamin B, dan mineral seperti magnesium dan kalium lebih tinggi karena kulit arinya masih utuh. Serat ini bermanfaat untuk membantu pencernaan dan menjaga berat badan.
Selain itu, nasi merah memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih. Artinya, nasi merah tidak cepat menaikkan kadar gula darah, sehingga lebih baik untuk penderita diabetes atau yang ingin menjaga kadar gula darah. Sebaliknya, nasi putih lebih cepat diubah menjadi gula oleh tubuh.
Namun, dari segi rasa, banyak orang lebih menyukai nasi putih. Teksturnya lebih lembut dan rasanya netral, sehingga mudah dipadukan dengan berbagai lauk. Nasi putih juga lebih cepat dimasak, sedangkan nasi merah biasanya membutuhkan waktu lebih lama.
Nasi merah memiliki rasa yang agak seperti kacang dan tekstur yang lebih kenyal atau agak keras. Hal ini membuat sebagian orang kurang menyukainya, terutama jika untuk dimakan setiap hari.
Dikutip dari The Pharma Innovation Journal, ada kondisi tertentu di mana nasi putih justru lebih dianjurkan, misalnya saat mengalami gangguan pencernaan seperti diare. Karena rendah serat, nasi putih lebih mudah dicerna. Selain itu, nasi putih mengandung asam folat yang penting bagi ibu hamil.
Nasi merah cocok untuk meningkatkan asupan nutrisi dan menjaga gula darah, sedangkan nasi putih lebih unggul dari segi rasa dan lebih mudah dicerna. [Wakhdah Alisa Berliana]






