Makkah (beritajatim.com) – Seluruh jemaah haji Indonesia yang tergabung dalam gelombang kedua diinstruksikan untuk mengenakan kain ihram sejak dari embarkasi di tanah air guna menjamin kelancaran ibadah setibanya di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.
Instruksi ini dikeluarkan guna mengantisipasi keterbatasan waktu dan ruang untuk berganti pakaian di pesawat, mengingat pendaratan di Jeddah mengharuskan jemaah sudah dalam kondisi siap untuk melaksanakan umrah wajib.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kebijakan ini menjadi pembeda utama antara prosedur kedatangan gelombang pertama di Madinah dengan gelombang kedua di Jeddah.
Dengan mengenakan ihram lebih awal, jemaah dapat langsung dimobilisasi menuju Makkah setelah melewati proses imigrasi dan pemeriksaan kesehatan di bandara.
Kepala Daker Makkah PPIH Arab Saudi 2026, Ihsan Faisal, menegaskan bahwa koordinasi dengan seluruh PPIH Embarkasi di tanah air telah dilakukan secara intensif.
“Gelombang kedua ini berangkat dari embarkasi itu diwajibkan atau kita instruksikan sudah memakai ihram. Kenapa? Karena ketika sudah landing di Bandara Jeddah, mereka langsung mengambil mikot ataupun niat ihramnya,” ujar Ihsan di Makkah, Rabu (6/5/2026).
Hindari Risiko Terlewat Miqat Yalamlam
Alasan teknis utama di balik instruksi ini adalah lokasi geografis titik miqat Yalamlam yang berada satu jalur dengan rute penerbangan menuju Jeddah.
Mengingat pesawat melaju dengan kecepatan tinggi, risiko terlewatinya titik miqat sangat besar jika jemaah baru mulai bersiap mengenakan ihram di dalam kabin pesawat.
Meski sudah mengenakan kain ihram (bagi laki-laki), jemaah perlu memahami bahwa status larangan ihram belum berlaku selama niat belum dilafalkan.
Oleh karena itu, selama perjalanan udara yang memakan waktu sekitar 9 jam, jemaah laki-laki masih diperbolehkan menggunakan pakaian dalam atau perlengkapan yang menghalau dingin, serta menggunakan wangi-wangian sebelum niat dimulai.
“Niatnya nanti ketika tiba di Jeddah. Jadi dari embarkasi sudah memakai kain ihram. Ketika landing pun semuanya sudah berihram dan langsung dinaikkan ke bus untuk diberangkatkan ke kota Makkah. Jadi tidak susah lagi untuk ganti ihram ataupun mandi dan sebagainya di bandara,” tambah Ihsan.
Pendampingan Niat dan Pengecekan Rukun
Setibanya di Jeddah, petugas bimbingan ibadah (bimbad) akan bersiaga menyambut jemaah, termasuk rombongan perdana dari kloter SOC 44 Solo yang dijadwalkan mendarat besok.
Petugas akan memandu pelafalan niat secara kolektif dan melakukan pemeriksaan akhir terhadap syarat sah ihram, seperti memastikan jemaah perempuan telah melepas cadar atau sarung tangan yang mungkin dipakai selama penerbangan karena dingin.
Bagi jemaah asal Jawa Timur, khususnya embarkasi Surabaya (SUB), kesiapan mengenakan ihram sejak dari Asrama Haji Sukolilo menjadi sangat krusial. Kemenhaj memastikan setiap kloter akan didampingi secara ketat oleh pembimbing ibadah guna memastikan transisi dari pesawat menuju bus, hingga akhirnya melaksanakan umrah wajib di Masjidil Haram, berjalan sesuai dengan ketentuan syariat. [ian/MCH]






