Madinah (beritajatim.com) – Manajemen logistik jemaah haji Indonesia di Madinah kini semakin ketat dengan pemberlakuan aturan pengumpulan koper delapan jam sebelum bus pendorongan menuju Makkah berangkat.
Prosedur ini terbukti efektif meminimalisir risiko barang tertinggal, memastikan seluruh tas jemaah telah aman di dalam bagasi bus jauh sebelum jemaah naik ke kendaraan.
Keberhasilan skema ini terlihat pada proses pendorongan jemaah di Sektor 2 Madinah. Hingga Sabtu (2/2/2026), sebanyak 17 kloter telah sukses diberangkatkan menuju Kota Kelahiran Nabi tanpa ada satu pun koper yang tertinggal di hotel. Disiplin waktu menjadi kunci utama dalam menjaga kelancaran alur mobilisasi ribuan jemaah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, sebanyak 445 jemaah dari Hotel Maysan Al-Harithia telah diberangkatkan pada Sabtu sore.
Proses ini berjalan tertib berkat sosialisasi standar operasional prosedur (SOP) yang dilakukan petugas kepada para ketua kloter jauh sebelum hari keberangkatan.
Ketua Sektor 2 Madinah, Iskandar Mahyudin, menyatakan bahwa koordinasi intensif telah membuahkan hasil positif bagi kenyamanan jemaah. “Alhamdulillah untuk koper besar maupun koper kecil semuanya masuk ke dalam bus. Tidak ada yang tertinggal,” kata Iskandar saat memantau proses logistik di Hotel Maysan.
Sesuai alur persiapan, barang berupa koper harus sudah berada di depan kamar delapan jam sebelum bus datang. Petugas kemudian akan menurunkan tas tersebut secara kolektif untuk langsung dimasukkan ke bagasi bus.
Iskandar menegaskan bahwa pihaknya telah mengundang seluruh ketua kloter untuk memberikan pemahaman terkait jam krusial pengumpulan barang ini.
Meski operasional berjalan lancar, pihak Kemenhaj tetap memberikan peringatan serius mengenai volume barang bawaan. Jemaah diingatkan untuk tidak berbelanja secara berlebihan selama di Madinah karena dikhawatirkan beban muatan akan melampaui batas yang ditetapkan maskapai penerbangan untuk kepulangan nanti.
“Kita imbau kepada semua jemaah agar jangan terlalu banyak untuk berbelanja dahulu. Karena dikhawatirkan nanti tasnya akan melebihi kapasitas yang ada disiapkan oleh maskapai,” tegas Iskandar. Imbauan ini sangat relevan bagi jemaah asal Jawa Timur, khususnya Embarkasi Surabaya (SUB), yang sering kali membawa oleh-oleh dalam jumlah besar.
Untuk menjamin kepatuhan, petugas tetap melakukan aksi sweeping tas sebelum bus meninggalkan hotel. Jika ditemukan tas yang tertinggal akibat keterlambatan jemaah, petugas akan mengupayakan pengiriman melalui kloter berikutnya atau menggunakan angkutan logistik cadangan.
Hingga saat ini, Sektor 2 Daker Madinah telah menerima total 64 kloter sejak awal masa kedatangan. Pengelolaan koper yang efisien ini menjadi bagian penting dari komitmen Kemenhaj dalam memberikan pelayanan yang profesional dan terukur bagi seluruh jemaah haji Indonesia. [ian/MCH]






