Tuban (beritajatim.com) – ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama yayasan eL-SAL Indonesia terus mendorong penguatan praktik pertanian berkelanjutan yang dipaparkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Tuban, melalui program yang berfokus pada pertanian semi-organik sebagai upaya mengatasi kelangkaan pupuk subsidi serta tingginya harga input pertanian kimia yang kerap membebani petani lokal.
Adapun yang dimaksud yakni pemanfaatan bahan organik seperti bokashi dan pestisida nabati yang terbukti tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menekan biaya produksi petani hingga 24 persen dibandingkan penggunaan bahan kimia sepenuhnya.
Keberhasilan efisiensi biaya tersebut dibarengi dengan lonjakan produktivitas yang signifikan di beberapa wilayah seperti Desa Sumurjalak dan Desa Trutup di Kecamatan Plumpang, serta Desa Punggulrejo di Kecamatan Rengel.
Capaian ini menjadi angin segar bagi sekitar 50 petani di bawah pendampingan eL-SAL yang tersebar di wilayah Soko, Rengel, Plumpang, dan Palang, meskipun pada awalnya proses adaptasi ini tidaklah mudah.
Perwakilan EMCL Joni Wicaksono mengatakan bahwa program ini merupakan wujud komitmen EMCL bersama SKK Migas untuk terus mendukung pemerintah dalam meningkatkan taraf ekonomi petani di wilayah operasi.
“Inisiatif ini juga mengedepankan aspek keamanan objek vital nasional melalui kolaborasi erat dengan warga,” ujar Joni Wicaksono, Selasa (28/04/2026).
EMCL juga berkolaborasi dengan petani untuk senantiasa menjaga keselamatan dan keamanan di sepanjang jalur pipa minyak Lapangan Banyu Urip.
Sementara itu, salah satu petani asal Desa Ngimbang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Tina yang terlibat dalam program pendampingan ini, awalnya masih ragu karena terbiasa dengan pestisida kimia. Namun setelah didampingi dan mencoba sendiri, ternyata tanaman tetap terlindungi, dan biaya pembelian obat-obatan menjadi lebih hemat.
“Penggunaan pestisida nabati ini memberikan alternatif yang lebih efisien di tengah kenaikan harga input pertanian. Sehingga, para petani memanfaatkan bahan-bahan alami mulai dari daun mimba, kecubung, akar tuba, hingga pengolahan urine serta kotoran sapi dan kambing menjadi pupuk cair maupun bokashi,” tambahnya.
Keberhasilan ini akhirnya mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Dinas Pertanian. Dalam pernyataannya, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Tuban, Pipin Diah Larasati, menyatakan inisiatif ini sangat sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong alternatif input pertanian di tengah keterbatasan pupuk subsidi. “Ke depan ini dapat dikembangkan ke desa-desa lain,” jelas Pipin Diah Larasati.
Dukungan serupa juga disampaikan oleh Kepala Bidang Sarana Pertanian, Hart Novembria Susetyowati, yang menilai bahwa pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik merupakan kunci untuk mewujudkan sistem pertanian yang lebih aman dan berkelanjutan. [dya/kun]






