Jember (beritajatim.com) – Petani tebu di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terjepit persoalan perang Iran melawan Amerika Serikat di Timur Tengah dan peredaran gula rafinasi.
“Perang di Timur Tengah seolah-olah terjadi di halaman rumah kita karena berdampak, pertama, terhadap harga BBM,” kata Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Pabrik Gula Glenmore Siswono, saat diwawancarai di Kabupaten Jember, Sabtu (25/4/2026).
Mayoritas pasokan gula di PG Glenmora Banyuwangi berasal dari petani tebu di Jember. “Kami minta Pemerintah Kabupaten Jember agar mengantisipasi agar tidak terjadi kelangkaan BBM, khususnya solar, pada saat musim giling 9 Mei 2026,” kata Siswonio
Selain itu, Siswono meminta pemerintah menjaga stabilitas harga gula dengan mencegah gula rafinasi merembes ke pasar rumah tangga. Menurut regulasi, gula rafinasi hanya digunakan sebagai bahan baku industri makanan, minuman, dan farmasi, serta dilarang dijual bebas kepada konsumen rumah tangga.
“Rembesan gula rafinasi sangat pengaruh terhadap harga gula. Tahun kemarin kita amblas semua. Menangis. Apalagi tahun kemarin rendemen hanya di bawah enam persen karena faktor hujan (terus-menerus), Biasanya rendemen delapan persen. Harga gula pun hancur,” kata Siswono.
Siswono berharap tahun ini pemerintah tidak mengimpor gula rafinasi. “Dengan demikian harga gula terjaga,” kata politisi Partai Gerindra ini. [wir/suf]






