Batu (beritajatim.com) – Momentum peringatan Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada 22 April 2026 menjadi titik balik untuk sektor pertanian di Kota Batu. Mengangkat tema keberlanjutan, TPS3R Jalibar Berseri Desa Oro-Oro Ombo berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu dan ECOTON menggelar sosialisasi “Transformasi Sampah Organik Menjadi Nutrisi Pangan Organik”.
Kegiatan di Gedung TPS3R Jalibar Berseri ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai urgensi pengelolaan sampah organik di tengah krisis lingkungan global. Sebagai langkah konkret, acara ini dibuka dengan penyerahan simbolis pupuk organik cair (POC) hasil olahan rumah kompos setempat kepada para petani, serta aksi penanaman pohon turi.
Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko, menyatakan bahwa pergeseran tren menuju pertanian organik kini mulai diminati oleh para petani lokal. Penggunaan POC dianggap sebagai terobosan strategis untuk mengembalikan kesuburan tanah sekaligus menekan ketergantungan pada pupuk kimia.
“Kami memberikan POC kepada petani yang terbukti sangat bagus untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Saya berharap inovasi ini memberikan manfaat ekonomi dan ekologis yang luas bagi warga,” ujar Wiweko saat acara pada Rabu (22/4/2026).
Senada dengan hal tersebut, Ketua TPS3R Jalibar Berseri, Titik Setyowati, menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. Menurutnya, sayuran yang ia tanam setiap hari menggunakan kompos dan pupuk cair dari TPS3R terbukti memiliki kualitas yang unggul.
“Acara ini digelar untuk mempromosikan bahwa unsur organik memiliki manfaat luar biasa bagi kehidupan dan kelestarian bumi,” tegas Titik.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Pengelolaan Limbah B3 DLH Kota Batu, Endang Ari Setyoningsih, S.T., M.Si., menjelaskan bahwa pemanfaatan air lindi sebagai POC merupakan inovasi yang sangat relevan dengan karakteristik Kota Batu sebagai kota pertanian.
“Selama ini sampah organik di TPS3R mayoritas diolah menjadi kompos padat. Padahal, lindi atau pupuk cair yang dihasilkan juga memiliki nutrisi tinggi. Pemanfaatan POC ini dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia secara signifikan,” jelas Endang.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber ahli. Heru, seorang praktisi lingkungan hidup asal Kota Batu, memaparkan efektivitas pertumbuhan tanaman yang menggunakan pupuk organik di setiap fasenya. Ia bahkan membuka ruang bagi masyarakat yang ingin belajar pembuatan pupuk organik secara gratis.
Di sisi lain, Tonis Afrianto dari ECOTON menyoroti peran vital masyarakat dalam menyukseskan program Zero Waste Cities. Ia mendorong pemerintah untuk berinvestasi pada teknologi pengolahan sampah organik dan mempromosikan refill system (sistem guna ulang) sebagai solusi mutakhir pengurangan sampah plastik sachet.
Dampak positif penggunaan POC diakui langsung oleh Peteman, salah satu petani peserta sosialisasi. Ia mengungkapkan bahwa pupuk cair organik menjadi alternatif jitu di tengah mahalnya harga pupuk kimia di pasaran.
“Penggunaan pupuk cair organik meringankan beban biaya produksi kami. Melalui pertemuan ini, kami akan melakukan strategi ‘getok tular’ untuk mengajak petani lain beralih ke organik,” ungkap Peteman optimistis.
Menariknya, acara peringatan Hari Bumi ini menerapkan prinsip nir-sampah atau minim sampah. Seluruh sajian konsumsi menggunakan sistem prasmanan dengan wadah guna ulang tanpa plastik sekali pakai. Sampah organik yang tersisa pun langsung diproses di rumah kompos TPS3R Oro-Oro Ombo.
Kemeriahan acara ditutup dengan aksi peragaan busana dari ibu-ibu pekerja TPS3R Jalibar Berseri serta lomba kreasi daur ulang. Perlombaan tersebut bertujuan untuk merangsang kreativitas kader lingkungan dalam menciptakan produk bernilai guna (reuse) dari barang bekas. (dan/kun)






