Surabaya, (beritajatim.com) – Burung perkutut memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sistem kepercayaan budaya masyarakat Jawa. Kehadirannya dianggap lebih dari sekedar hewan peliharaan, melainkan juga sebagai simbol keberhasilan hidup seorang pria yang mencakup tempat tinggal, pasangan, kendaraan, keturunan, dan kebahagiaan. Secara fisik, burung ini dihormati karena kemampuannya yang luar biasa dalam menghadapi cuaca ekstrem serta suara merdunya, yang sering dianggap bisa memberikan ketenangan bagi orang yang mendengarkannya.
Dalam budaya Jawa, terdapat ilmu Katuranggan yang digunakan untuk menginterpretasikan ciri-ciri fisik burung sebagai indikasi nasib seseorang. Masyarakat mempercayai bahwa ciri-ciri tertentu pada bulu, mata, atau kaki burung perkutut sangat terkait dengan energi yang dibawa ke dalam rumah. Hal ini menjadi dasar munculnya berbagai mitos tentang burung yang membawa keberuntungan, kewibawaan, dan perlindungan dari energi negatif bagi pemilik yang sesuai.
Salah satu mitos yang paling terkenal adalah keyakinan bahwa perkutut tertentu merupakan manifestasi dari makhluk gaib atau dulunya dimiliki oleh sosok sakti di era kerajaan Majapahit. Terdapat juga cerita turun-temurun yang menyatakan bahwa beberapa jenis perkutut dapat bertransformasi menjadi ular pada waktu-waktu tertentu yang dianggap sakral. Walaupun sulit dibuktikan secara ilmiah, cerita-cerita ini menambah kesan misterius dan keistimewaan burung perkutut di mata para penggemar.
Beberapa jenis katuranggan yang sangat diminati antara lain adalah Songgo Ratu yang memiliki jambul seperti mahkota dan Daringan yang memiliki garis leher melingkar tanpa putus. Burung-burung dengan ciri khas ini diyakini mampu meningkatkan status sosial dan mempertahankan keharmonisan dalam rumah tangga. Bagi mereka yang menganut tradisi, menemukan perkutut yang cocok dengan kepribadian adalah pencapaian spiritual yang sangat berarti.
Secara objektif, fenomena perkutut mencerminkan cara masyarakat Jawa menghubungkan observasi alam dengan nilai-nilai filosofi. Memelihara perkutut dianggap sebagai cara untuk melestarikan budaya nenek moyang yang mengajarkan kesabaran, karena menjinakkan dan merawat burung tersebut memerlukan keuletan yang tinggi. Suara merdunya perkutut sampai saat ini masih menjadi simbol suasana pedesaan dan perkotaan di Jawa yang kaya akan makna simbolis.
Budaya ini terus bertahan seiring waktu, menunjukkan bahwa daya tarik perkutut tidak hanya terletak pada fisiknya, tetapi juga pada cerita-cerita budaya yang menyertainya. Baik sebagai hobi maupun sebagai bagian dari hidup, perkutut tetap menjadi elemen esensial dalam identitas budaya masyarakat. Melalui burung kecil ini, kita dapat memahami bagaimana sejarah, mitos, dan fakta saling berkaitan untuk membentuk sebuah tradisi yang tetap relevan hingga kini. [Nickma Tsany Byan Leonartha]






