Sumenep (beritajatim.com) – Sebanyak 15 calon jemaah haji (CJH) asal Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dipastikan batal berangkat ke Tanah Suci pada musim haji 1447 H/2026 M akibat faktor kematian, kondisi kesehatan yang menurun, hingga alasan pendamping. Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sumenep mencatat adanya dinamika kesiapan jemaah yang fluktuatif menjelang jadwal keberangkatan resmi yang akan dimulai akhir bulan ini.
Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Sumenep, Ahmad Halimy, mengungkapkan bahwa dari total jemaah yang gagal berangkat tersebut, lima orang di antaranya dilaporkan telah meninggal dunia. Selebihnya, pembatalan dipicu oleh masalah kesehatan yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh serta faktor psikologis jemaah yang pasangannya meninggal dunia.
“Yang meninggal 5 orang. Yang lainnya ada yang batal berangkat karena kondisi kesehatan, ada juga yang batal berangkat karena pasangannya meninggal. Ini biasanya sangat mempengaruhi kondisi kesiapan calon jemaah,” ujar Ahmad Halimy pada Senin (13/04/2026).
Pihak Kemenhaj memprediksi angka pembatalan ini masih berpotensi bertambah mengingat proses verifikasi akhir masih terus berjalan hingga menjelang keberangkatan ke embarkasi. Halimy menekankan pentingnya persiapan fisik dan mental bagi para pendaftar agar tetap siap menghadapi segala kemungkinan sebelum hari keberangkatan.
“Yang namanya sakit, ajal, atau halangan lain tidak ada yang bisa memprediksi. Tapi tentu saja kami berharap para calon jemaah yang sudah mendaftar bisa mulai mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental,” paparnya.
Di sisi lain, kondisi kesehatan jemaah haji Sumenep tahun ini menjadi sorotan serius. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep, mayoritas calon jemaah yang terdaftar berada dalam kategori risiko tinggi (risti) dari sisi medis.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, memaparkan bahwa dari total 1.343 calon jemaah, sebanyak 805 orang atau sekitar 60 persen masuk ke dalam kelompok risti. Persentase yang cukup besar ini didominasi oleh jemaah lanjut usia serta mereka yang memiliki riwayat penyakit penyerta.
“Yang termasuk risti ini adalah jemaah lanjut usia (lansia), kemudian jemaah yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung,” terangnya.
Menyikapi tingginya angka jemaah risti, tim kesehatan jemaah haji telah menyiapkan skema pengawasan dan pelayanan khusus. Fokus utamanya adalah memantau kondisi komorbid jemaah secara berkala guna memastikan mereka tetap dalam kondisi stabil hingga proses pelaksanaan ibadah di Arab Saudi selesai. Syamsuri memastikan jemaah risti akan mendapatkan atensi lebih dari petugas medis yang mendampingi di setiap kloter. [ian]






