Sidoarjo (beritajatim.com) – H .Rahmat Muhajirin mantan anggota DPR RI periode 2019 – 2024.memberikan klarifikasi terkait video hoaks yang menampilkan foto profil dirinya.
Video yang sempat viral di media sosial itu, diduga dibuat oleh orang tak bertanggung jawab untuk menyerang dan menjatuhkan dirinya. Rahmat meyakini video berdurasi 1 menit 13 detik tersebut, direkayasa menggunakan aplikasi Artificial Intelligence (AI).
”Saya baru tahu video ini dan baru lihat. Jadi perlu waktu untuk mendalami konten maupun visual dalam video tersebut dibuat dengan penuh rekayasa menggunakan AI. Karena suara saya dibuat sedemikian rupa sehingga terdengar seperti arogan,” ucapnya Rabu (8/4/2026).
Suami Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana itu menyebut video dengan narasi sesat itu sengaja diframing untuk memfitnah dirinya. Nuansa muatan kental politik terlihat dari gabungan potongan kata-kata yang diedit dengan sengaja.
”Coba simak dan perhatikan video itu, kata-katanya merupakan potongan yang sengaja diedit dan suaranya terdengar menggema. Narasi yang dibangun pun keji banget, Sampai-sampai saya dibenturkan dengan partai lain. Ini jelas jelas tidak sesuai fakta,” terang politisi senior yang juga Ketua Dewan Pembina DPC Partai Gerindra Sidoarjo ini.
H. Rahmat Muhajirin mengaku heran dari mana didapatkan sumber dua suara dalam video itu yang kemudian disatukan dan terdengar mirip dengan gaya bicaranya. Selain itu, ia juga mempertanyakan foto pribadi dirinya dalam video itu, dengan caption keterangan waktu November 28, 1990.
”Saya heran dari mana bisa dapat suara yang ada dalam video itu kemudian dikatakan sebagai Rahmat Muhajirin. Kapan dan dimana diambilnya, kok tiba-tiba muncul dubbingan suara itu. Kejanggalan lainnya, foto yang dipasang, itu ketika saya masih menjadi anggota dewan (DPR RI), namun anehnya, keterangan tulisan dibawahnya 28 november 1990. Padahal tahun segitu, saya masih aktif TNI,” tukasnya.
Rahmat menyatakan secara substansi tidak ada yang salah dalam kutipan ucapan suara pertama bahwa KPK, Kejaksaan dan Kepolisian berada tepat di bawah kekuasan Presiden. Sedangkan suara kedua yang bermuatan Pilkada 2024 diduga sengaja dipelintir.
”Pilpres kemarin pemenangnya adalah Capres dari Partai Gerindra, yakni Pak Prabowo. Maka secara substansi tidak ada yang salah dalam ucapan di video tersebut, bahwa Kepolisian berkedudukan langsung di bawah Presiden. Demikian pula dengan KPK dan Kejaksaan secara struktural berada di bawah dan bertanggung jawab kepada presiden. Sementara suara kedua dalam video, dugaan saya itu dipelintir jadi tidak sesuai fakta,” ungkap pria yang akrap di RM itu.
Karena itu, Rahmat Muhajirin meminta masyarakat tidak mudah terpancing atau terprovokasi adanya video tersebut. Saat ini, ia dan tim hukum tengah mendalami konten video hoaks yang diunggah oleh akun @coco tersebut. Jika ditemukan tindak pidana, RM tak segan untuk menyeret seluruh pihak yang terlibat. Termasuk aktor di balik pembuatan video yang sarat dengan ujaran kebencian itu.
”Sementara, jawaban klarifikasi saya cukup seperti itu. Selanjutnya saya bersama tim hukum akan minta bantuan digital forensik untuk memeriksa video yang telah merendahkan martabat dan harga diri saya. Selain itu, saya juga dirugikan atas pencemaran nama baik. Jika ditemukan dalangnya akan saya laporkan ke pihak berwajib,” tegasnya.
Sebelumnya, sekelompok orang mengatasnamakan Barisan Relawan Prabowo berunjuk rasa di depan kantor Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerakan Indonesia Raya (DPD Partai Gerindra) di Surabaya pada Senin pagi, 6 April 2026. Mereka menuntut DPD Partai Gerindra memberikan sanksi kepada Rahmat Muhajirin atas statmentnya yang viral. (isa/but)






