Jombang (beritajatim.com) – Setiap kali lebaran tiba, ada satu hal yang tak pernah terlewat bagi Isa Marshanda, pelawak senior yang kini menetap di Jakarta: pulang kampung. Meskipun hidup dan berkarir di ibu kota, Cak Isa—begitu ia akrab disapa—selalu merasa ada panggilan yang kuat untuk kembali ke tanah kelahirannya di Jombang.
Tahun ini, ia kembali mudik, bukan hanya untuk beberapa hari, tapi lebih dari satu minggu, untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan mengenang masa lalu yang penuh warna di Desa Pulo Lor, Kecamatan Jombang Kota.
“Saya asli Jombang. Kemanapun saya pergi, tidak akan melupakan Jombang. Jombang selalu di hati,” ujar Isa dengan mata yang penuh nostalgia, mengenang akar yang selalu membentuk siapa dirinya.
Bagi Cak Isa, Jombang bukan sekadar tempat asal lahir. Di kota santri inilah bakat humornya mulai terasah sejak 1980-an. Dalam perjalanan karirnya, Isa bersama teman-temannya membentuk grup lawak bernama ‘Remaja Kreatif’, yang banyak menjuarai lomba-lomba humor.
“Kami sering ikut lomba humor dan banyak memenangkan juara,” kenang Isa, mengingat saat-saat penuh semangat masa muda. Tidak hanya itu, grup ini juga pernah tampil di TVRI Surabaya dan pentas lawak di Jombang, memperkenalkan Cak Isa kepada dunia hiburan.
Di tengah perjalanan karirnya, Isa masih ingat saat dirinya pernah berada di panggung bersama Gombloh, penyanyi legendaris yang juga berasal dari Jombang. “Saya melawak, sedangkan Gombloh menyanyi. Kami pernah pentas di Undar dan di Kodim Jombang,” katanya, mengenang momen langka yang semakin memperkaya perjalanan karirnya.
Seiring berjalannya waktu, Isa pun merantau ke Surabaya, yang menjadi titik penting bagi perkembangan karirnya. Di kota pahlawan ini, bakatnya semakin berkembang, berkolaborasi dengan pelawak-pelawak lain seperti Cak Lontong, Cak Suro, dan Tatok.

Pada 2003, ia bersama Suro dan Tatok membentuk grup lawak Ngelantur, yang cukup terkenal di Jawa Timur dan berhasil menjadi finalis API (Akademi Pelawak Indonesia) di TPI. Dari sinilah nama Cak Isa semakin dikenal, hingga akhirnya menembus layar televisi nasional melalui acara Republik Mimpi di Metro TV.
Namun, meski telah banyak meraih kesuksesan di ibu kota, Isa tak pernah melupakan Jombang, tempat di mana dirinya pertama kali jatuh cinta pada dunia lawak. “Saya mulai meninggalkan Jombang sekitar 2005 dan menetap di Jakarta. Saya diminta Mas Effendi Ghazali untuk ikut di Republik Mimpi,” jelasnya.
Meski kini jauh dari kampung halaman, hubungan Isa dengan warga Jombang tetap terjaga. Ia aktif di organisasi Pagrrijo (Paguyuban Arek Jombang), yang menjadi tempat berkumpulnya warga Jombang yang merantau di Jakarta. “Dengan Mas Sapto Anggoro (wartawan), saya juga sering komunikasi,” tuturnya, menunjukkan bahwa meski jarak memisahkan, hati tetap terikat erat.
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, Isa pun beradaptasi dengan perubahan. Dunia hiburan di televisi yang mulai bertransformasi, membuatnya beralih ke media sosial untuk tetap eksis di dunia lawak.
“Sekarang ini semua informasi melalui ponsel. Kita harus menyesuaikan. Makanya saya melawak juga melalui platform media sosial,” ungkapnya. Akun YouTube-nya yang bernama Gusi (Guyon Berisi) menjadi wadah baru bagi Cak Isa untuk menyebarkan tawa dan menghibur banyak orang.
Bagi Cak Isa, dunia lawak adalah sebuah perjalanan panjang yang tak bisa dipisahkan dari Jombang. Sejak dulu, kota ini telah mencetak banyak pelawak besar, seperti Asmuni Srimulat, yang juga berasal dari Jombang.
“Jombang memberikan kontribusi besar bagi dunia lawak,” katanya dengan bangga. Tidak hanya di panggung hiburan, bahkan ludruk, seni pertunjukan yang khas dari Jawa Timur, pun lahir di Jombang, menunjukkan bahwa kota ini memang memiliki tempat istimewa di dunia hiburan Indonesia.
Perjalanan karir Cak Isa adalah bukti betapa pentingnya untuk selalu mengenang akar dan kampung halaman. Jombang, dengan segala kenangan dan kontribusinya, akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap langkah hidup Isa Marshanda. [suf]






