Pamekasan (beritajatim.com) – Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola beasiswa serta mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pendidikan keagamaan di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Kepala Puspenma Kemenag RI, Ruchman Basori dalam Silaturahim dan Sosialiasi Program Puspenma Kemang Ri, di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Jl KH Abd Majid, Panaan, Palengaan, Pamekasan, Kamis (2/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, tampak hadir Pengasuh Pesantren Bata-Bata, KH Muhammad Faisol Abd Hamid, Ketua Yayasan Mambaul Ulum Bata-Bata (Yasmuba), Ismail A Rahim beserta jajaran, serta sejumlah kepala Satuan Pendidikan di lingkungan pesantren yang mengusung jargon; ‘Kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan’.
Ruchman mengungkapkan pengalamannya selama sembilan tahun di Inspektorat Jenderal menjadi bekal penting dalam mengawal tata kelola pembiayaan pendidikan yang akuntabel dan profesional. “Puspenma tidak hanya mengelola beasiswa, tetapi juga membawahi kerja sama pendidikan dan riset yang diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pesantren,” kata Ruchman Basori.
“Saat ini terdapat dua fokus utama yang menjadi perhatian, yakni penguatan program beasiswa serta pengembangan program pendidikan yang relevan dengan ekosistem pesantren,” sambung Ruchman.
Selain itu pihaknya juga menyampaikan jika periode 2019-2021 program beasiswa menjadi masa penuh tantangan akibat pandemi Covid-19, di mana anggaran pendidikan banyak dialihkan untuk penanganan darurat, termasuk pembelian kebutuhan kesehatan seperti sanitizer, dan lainnya yang justru berdampak pada optimalisasi program beasiswa.
“Meski demikian, pemerintah tetap melanjutkan pengelolaan dana abadi pesantren melalui kerja sama dengan LPDP. Dari sinilah lahir berbagai program strategis seperti Beasiswa Indonesia Maju, Beasiswa Indonesia Bangkit (dimulai 2022), dan lainnya,” jelasnya.
Tidak kalah penting pihaknya juga mengurai tantangan kualitas SDM Akademik, termasuk menyoroti rendahnya kualifikasi akademik dosen sebagai tantangan utama. ‘Saat ini, dosen dengan kualifikasi magister masih mendominasi, sementara jumlah dosen bergelar doktor baru sekitar 0,53 persen, jauh tertinggal dibandingkan Malaysia dan Vietnam yang mencapai 2,25 persen,” jelasnya.
“Selain itu, kebutuhan penguatan bidang sains dan STEM juga mendesak, mengingat banyak perguruan tinggi keagamaan masih belum kompetitif secara global. Bahkan tidak jarang kita mendengar fenomena “UIN rasa IAIN” sebagai indikator perlunya transformasi akademik yang lebih serius,” imbuhnya.
Guna menghadapi tantangan tersebut, pihaknya juga menyiapkan berbagai langkah strategis. “Saat ini Puspenma menjadi lembaga pembiayaan pendidikan strategis yang menangani berbagai program, antara lain Program Indonesia Pintar untuk pendidikan dasar dan keagamaan, Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk PTKI, hingga Riset Indonesia Bangkit yang berorientasi pada dampak pembangunan masyarakat,” bebernya.
“Oleh karana itu, sangat penting untuk kita tekankan akan pentingnya profesionalisasi pengelolaan beasiswa agar benar-benar menjadi instrumen peningkatan kualitas SDM dalam skala nasional,” tegasnya.
Dalam konteks global, pihaknya mengakui adanya kesenjangan (jomplang) kualitas dan akses dibanding negara seperti Australia dan Malaysia. “Kedepan penting bagi kita untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, termasuk standar sertifikasi seperti TOEFL, sebagai syarat utama beasiswa luar negeri,” jelasnya.
“Sebagai upaya standarisasi dan daya saing global, kami juga berupaya menjembatani keterbatasan akses mahasiswa, termasuk lulusan Timur Tengah seperti Mesir, agar dapat melanjutkan studi ke negara-negara maju seperti Australia dan Inggris,” pungkasnya. [pin/kun]






