Banyuwangi (beritajatim.com) – Kemacetan panjang masih terjadi di jalur Situbondo-Banyuwangi menuju Pelabuhan Ketapang, meski momen puncak arus balik Lebaran telah berlalu, Selasa (31/3/2026).
Terlihat sejumlah kendaraan, mulai dari mobil pribadi hingga angkutan bus antar kota, masih memenuhi jalur menuju pelabuhan.
Tingginya volume kendaraan membuat kepadatan masih belum sepenuhnya terurai.
Antrean bahkan terpantau mengular hingga sekitar 12 kilometer, namun putus-putus.
Salah satu kondektur bus, Candra, yang melayani rute Bandung-Bali, mengaku terjebak kemacetan hingga 11 jam sebelum akhirnya tiba di Pelabuhan Ketapang.
“Kena macet setelah keluar dari Alas Baluran daerah Wongsorejo. Itu mulai hampir jam 3 pagi dan baru masuk pelabuhan sekitar jam 13.30 WIB, itu pun masih antre,” ujarnya.
Candra mengaku, bus yang ditumpanginya membawa sekitar 40 penumpang, sebagian besar merupakan pekerja yang hendak kembali ke Bali.
“Kalau momen seperti Lebaran begini, sudah pasti macet. Ini sudah jadi pengalaman setiap tahun,” jelasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Haki, pengendara mobil asal Kediri tujuan Denpasar. Ia mengaku mulai terjebak kemacetan sejak pagi hari. “Jam 7 pagi setelah keluar Alas Baluran sudah kena macet, baru bisa masuk sekitar jam 13.28 WIB,” katanya.
Haki mengaku, kemacetan saat arus balik Lebaran sudah menjadi hal yang dapat diprediksi. Namun, ia berharap ada solusi jangka panjang untuk mengurangi kepadatan.
“Mungkin bisa ditambah dermaga dan kapal, jadi lebih banyak yang dioperasikan supaya antrean tidak panjang seperti ini,” ujarnya.
Meski terpantau macet, untuk sementara pengendara roda dua masih bisa melintas normal.
Salah satu pengendara, Ristan menjelaskan, ia memilih jalur alternatif untuk menghindari kemacetan parah. Meski demikian, ia tetap tidak bisa sepenuhnya lepas dari antrean.
“Berangkat jam 9, tetap macet. Lewat pinggiran masih bisa jalan pelan, tapi tetap antre. Baru masuk pelabuhan sekitar jam 13.30,” ungkap pria asal Bondowoso.
Sementara untuk megurai atrean, ASDP Ketapang mengoperasikan 33 kapal dan menerapkan skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB). [tar/ian]






