Jakarta (beritajatim.com)– Tahun 2026 menjadi momentum penting dengan genap satu abad kelahiran Ingvar Kamprad.
Sosok pendiri IKEA ini dikenal melalui gagasannya tentang kesederhanaan, efisiensi, dan desain yang dapat diakses banyak orang—nilai yang hingga kini masih relevan, termasuk di Indonesia.
Konsep yang berakar dari wilayah Småland tersebut ternyata sejalan dengan cara masyarakat Indonesia menjalani kehidupan sehari-hari.
Mulai dari keluarga yang memanfaatkan satu ruang untuk berbagai aktivitas, hingga pasangan muda yang menata apartemen studio, prinsip hidup sederhana dan fungsional menjadi bagian dari keseharian.
Gaya Hidup Fleksibel Masyarakat Indonesia
Dalam perjalanannya selama lebih dari satu dekade di Indonesia, IKEA Indonesia melihat bahwa rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal, melainkan ruang dinamis yang terus berubah mengikuti kebutuhan penghuninya.
Ruang keluarga dapat berfungsi sebagai tempat bekerja, belajar, hingga bersantai. Sudut kecil rumah pun kerap disulap menjadi area produktif. Kondisi ini mencerminkan karakter hunian masyarakat Indonesia yang fleksibel, penuh aktivitas, dan adaptif.
Temuan ini juga diperkuat dalam laporan Life at Home Report IKEA Indonesia 2025, yang menunjukkan kebutuhan utama masyarakat meliputi solusi penyimpanan yang efisien, perabot multifungsi, serta penataan rumah yang praktis.
Filosofi yang Tetap Bertahan
Pada 1976, Ingvar Kamprad menuangkan pemikirannya dalam buku The Testament of a Furniture Dealer. Dalam tulisan tersebut, ia menekankan pentingnya menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang melalui keputusan yang jujur, efisien, dan inovatif.
Dari prinsip tersebut lahirlah konsep Democratic Design, yang mengedepankan keseimbangan antara fungsi, estetika, kualitas, keberlanjutan, dan harga terjangkau. Di Indonesia, pendekatan ini terlihat dari bagaimana masyarakat memilih produk yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan sehari-hari.
Relevansi di Tengah Perubahan Gaya Hidup
Perkembangan hunian berukuran kecil di kota besar, meningkatnya jumlah keluarga muda, hingga gaya hidup yang terus berubah membuat kebutuhan akan solusi rumah semakin tinggi.
Bagi sebagian orang, rumah menjadi tempat memulai kehidupan baru, ruang tumbuh bagi keluarga, sekaligus area kerja. Sementara bagi yang tinggal sendiri, hunian yang praktis dan mudah dirawat menjadi prioritas utama.
Dalam konteks ini, filosofi Ingvar Kamprad dinilai tetap relevan.
“Warisan Ingvar selalu berangkat dari hal-hal sederhana: memahami apa yang benar-benar dibutuhkan orang di rumah. Kami melihat bagaimana banyak orang Indonesia menata ruang dengan cara yang kreatif agar kehidupan sehari-hari terasa lebih nyaman. Tantangan seperti ruang terbatas atau rutinitas yang padat justru mendorong munculnya solusi yang cerdas dan dekat dengan kehidupan nyata. Semangat itulah yang terus menginspirasi kami dalam menghadirkan solusi yang relevan dan terjangkau bagi banyak orang,” ujar Ririn Basuki.
Warisan yang Terus Hidup
Meski Ingvar Kamprad telah wafat pada 2018, pemikirannya tetap menjadi fondasi bagi IKEA. Nilai-nilai yang lahir dari pedesaan kecil di Swedia kini terus hidup di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Seratus tahun sejak kelahirannya, gagasan sederhana tentang rumah yang mampu menyesuaikan kebutuhan penghuninya tetap menjadi inspirasi. Selama kebutuhan akan hunian yang nyaman, fungsional, dan terjangkau masih ada, semangat dari Småland diyakini akan terus hadir dalam cara masyarakat menata dan merawat rumah mereka.
Biografi Ingvar Kamprad
Ingvar Kamprad lahir pada tahun 1926 di Älmhult, Småland, sebuah daerah yang dikenal dengan kehidupan sederhana dan kebiasaan memanfaatkan apa yang ada sebaik mungkin. Nilai-nilai itu membentuk cara pandangnya sejak kecil, berusaha efektif, cermat dan hemat, dan selalu mencari solusi yang lebih baik. Ketertarikannya pada usaha dagang dimulai ketika ia masih sangat muda, dari menjual korek api, kartu ucapan, hingga majalah kepada keluarga dan tetangga, banyak diantaranya terinspirasi dari waktu yang ia habiskan di toko kakeknya.
Pada 1943, di usia 17 tahun, Ingvar mendirikan IKEA sebagai usaha pemesanan via pos, menjual berbagai barang kecil sambil mempelajari cara membeli dan mendistribusikan produk dengan efisien. Beberapa tahun kemudian, ia mulai fokus pada perabot rumah tangga dan melihat peluang untuk membuatnya lebih terjangkau bagi lebih banyak orang. Untuk mewujudkan itu, ia mempersingkat rantai distribusi, bekerja langsung dengan produsen, dan memperkenalkan cara-cara baru dalam memajang serta mengirim produk, termasuk konsep flatpack yang kemudian menjadi identitas IKEA.
Ketika pertumbuhan ekonomi di Swedia meningkat, IKEA berkembang pesat. Showroom pertama dibuka di Älmhult pada 1958, disusul toko flagship di Kungens Kurva pada 1965 yang kemudian menjadi salah satu toko paling ikonik IKEA di dunia. Dari sana, ekspansi internasional dimulai dan ribuan co-worker bergabung dalam perjalanan ini.
Agar nilai-nilai IKEA tetap terjaga, pada 1976 Ingvar menuliskan The Testament of a Furniture Dealer, yang merangkum prinsip dasar IKEA seperti kesederhanaan, tanggung jawab, serta keberanian untuk mencoba hal baru. Ia percaya bahwa kemajuan hanya dapat tercapai jika orang tidak takut melakukan kesalahan selama mau belajar darinya.
Untuk menjamin keberlanjutan jangka panjang, pada 1982 Ingvar membangun struktur yayasan yang menjaga independensi IKEA dan memastikan keuntungan kembali diinvestasikan untuk mengembangkan perusahaan dan mendukung inisiatif sosial. Ia meyakini bahwa IKEA ada untuk banyak orang, dan keberhasilan harus memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Setelah istrinya wafat pada 2011, Ingvar kembali ke Älmhult dan tetap menjadi sumber inspirasi bagi banyak co-worker hingga akhir hayatnya pada 2018. Cara pandangnya hidup melalui komitmen IKEA terhadap Democratic Design, yang menyeimbangkan bentuk, fungsi, kualitas, keberlanjutan, dan harga agar lebih banyak orang dapat menikmati kehidupan sehari-hari yang lebih baik di rumah.(ted)






