Surabaya (beritajatim.com) – Konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung hampir empat minggu menunjukkan bahwa kemampuan rudal jarak jauh Iran masih menjadi ancaman serius.
Meskipun kampanye udara gabungan Amerika Serikat dan Israel diklaim berhasil melemahkan kekuatan militer Teheran, serangan rudal balistik Iran tetap berlangsung dan bahkan menunjukkan tingkat efektivitas baru.
Sejak operasi militer dimulai pada 28 Februari, Iran terus meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan negara-negara Teluk.
Serangan terbaru, termasuk gelombang serangan akhir pekan, dilaporkan melukai hampir 200 orang di wilayah selatan Israel. Kondisi ini menegaskan bahwa kekuatan udara belum sepenuhnya mampu menghentikan sistem persenjataan rudal yang tersebar dan tersembunyi di berbagai lokasi strategis.
Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa Iran kini mengubah strategi militernya dengan menggunakan sisa persenjataan secara lebih efisien. Rudal dan drone diluncurkan dari pangkalan di wilayah timur Iran yang sulit dijangkau.
“Iran yang melemah, yang menembakkan rudal dan drone lebih sedikit namun dengan bidikan lebih akurat ke target-target tetap yang dipilih dengan hati-hati, menjadi semakin efektif,” ujar analis riset CNA Corp, Decker Eveleth.
Data dari Pentagon menunjukkan jumlah peluncuran rudal Iran telah menurun hingga sekitar 90 persen dibandingkan hari pertama perang. Pada 28 Februari, Iran diperkirakan menembakkan sekitar 480 rudal balistik. Sementara itu, serangan drone juga turun hingga 95 persen pada pertengahan Maret.
Namun, meski frekuensinya menurun, dampak serangan justru meningkat. Pada 21 Maret, dua rudal balistik varian Ghadr menghantam kota Dimona dan Arad di Israel selatan, wilayah yang berada dekat dengan fasilitas nuklir strategis. Serangan tersebut menyebabkan hampir 200 orang terluka, termasuk anak-anak.
Kapasitas Produksi Turun Drastis
Sebelum konflik, jumlah persediaan rudal Iran diperkirakan berkisar antara 2.500 hingga 6.000 unit. Sejak perang dimulai, militer Israel mengklaim telah melakukan lebih dari 600 serangan terhadap situs rudal Iran dan menghancurkan sekitar dua pertiga peluncurnya.
Penurunan juga terjadi pada kapasitas produksi. Analis Atlantic Council, Mark Plitsas, menyebut produksi rudal Iran kini turun drastis dari sekitar 300 rudal per bulan menjadi hanya sekitar 40 rudal.
“Setara dengan serangan satu hari saja,” katanya.
Meski demikian, analis dari International Institute for Strategic Studies, William Alberque, mengingatkan bahwa kapasitas produksi bawah tanah Iran masih belum sepenuhnya terungkap.
‘Kota Rudal’ Jadi Tantangan Besar
Salah satu faktor utama yang membuat serangan Iran tetap berbahaya adalah keberadaan jaringan pangkalan bawah tanah yang dikenal sebagai “kota rudal”. Fasilitas ini tersebar di berbagai wilayah dan dirancang untuk melindungi sistem peluncuran dari serangan udara.
Pasukan AS dan Israel dilaporkan terus memburu lokasi-lokasi tersebut, termasuk dengan patroli udara dan penggunaan bom penghancur bunker. Serangan juga tercatat menyasar wilayah Fars dan Hormozgan.
Di Pulau Qeshm, yang terletak di Selat Hormuz, seorang mantan pejabat militer Iran mengungkapkan kekuatan tersembunyi negaranya. “Kemampuan serangan Iran yang kuat berada di dalam kota rudal bawah tanah,” ujarnya.
Militer Israel menyatakan bahwa operasi udara mereka telah mengganggu koordinasi serangan besar Iran dan menewaskan sejumlah komandan penting, termasuk kepala Pasukan Kedirgantaraan Garda Revolusi Iran.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa keberhasilan mencegah korban jiwa dalam beberapa serangan besar juga dipengaruhi faktor keberuntungan. Ia menyebut tidak adanya korban tewas dalam serangan tertentu sebagai “berkat keberuntungan”.
Meski kemampuan militer Iran telah melemah secara signifikan, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa ancaman belum sepenuhnya hilang. Strategi baru yang mengandalkan akurasi dan perlindungan fasilitas bawah tanah justru membuat serangan lebih sulit dicegah.
Situasi ini menandakan bahwa konflik masih jauh dari kata selesai, dengan risiko eskalasi yang tetap tinggi di kawasan Timur Tengah. (ted)






