Salah satu pilar penting tegaknya rezim Shah Iran Reza Pahlavi yang represif, intimidatif, antikritik, mengharamkan oposisi politik, perilaku politiknya otoritarian, dan despotik adalah dukungan dari lembaga polisi rahasia bernama SAVAK.
Lembaga ini dibentuk pada tahun 1957 yang dikenal kejam, bengis, menindas, sewenang-wenang, tak punya belas kasihan, dan mengeksekusi banyak lawan politik Shah Iran. Ada yang menyebut keberadaan dan perilaku SAVAK kurang lebih mirip dengan Gestapo yang dibentuk Hitler, pimpinan Nazi Jerman, pada Perang Dunia (PD) II.
SAVAK adalah singkatan Sazman-e Ethela’at va Amniyat Keshvar (Organisasi Informasi dan Keamanan Wilayah. Pertama kali dibentuk dan operasional, SAVAK dipimpin Jenderal Teymur Bakhtiar.
Badan ini dibentuk dan dilatih oleh agen intelijen CIA Amerika Serikat dan Mossad Israel. Sehingga dalam operasinya, teknik menginterogasi tahanan dan lawan politik Shah Iran, plus minus seperti teknik interogasi yang dipraktikkan CIA dan Mossad.
“Tugas pokok SAVAK ada dua: Pertama, mencari di kalangan militer kalau-kalau ada komplotan anti-Shah. Kedua, tugas di kalangan sipil untuk infiltrasi ke pers, parpol terutama partai oposisi, kalangan serikat buruh, akademisi perguruan tinggi, cendikiawan, dan lainnya. Tapi, lama-lama SAVAK berfungsi mencari jejak musuh Kerajaan (Shah Iran) dan orang-orang Komunis,” tulis Dr Nasir Tamara (2017) dalam buku: Revolusi Iran.
Selama rezim Shah Iran berkuasa, SAVAK memiliki sekitar 4.000 mata-mata profesional, 50 ribu informan terlatih plus ribuan pembantu tidak tetap dan lepas. Nilai anggarannya per tahun di masa itu sekitar 1 miliar Ryal Iran. “Itu angka anggaran yang resmi. Besaran anggaran sesungguhnya mungkin jauh lebih besar dari itu,” tambah Nasir.
Sejak berdirinya, SAVAK secara total mengabdi, loyal, dan menghamba kepada Shah Iran Reza Pahlavi. Lembaga ini jadi tangan kanan politik dan militer Shah Iran. Terutama untuk memata-matai elite politik, militer, dan lembaga apapun yang tak sejalan dengan policy Shah Iran.
SAVAK jadi mata dan telinga rezim penguasa. Keberadaannya tak hanya di dalam negeri. Sejumlah perwakilan kedutaan besar Iran di luar negeri, terutama di negara-negara yang banyak pengungsi warga Iran karena alasan politik, seperti Irak, Prancis, dan lainnya.
Agen SAVAK menyaru sebagai diplomat. Mereka ditugaskan di kedubes Iran di satu negara tertentu. Tugasnya lebih banyak untuk mencari informasi dan memata-matai warga Iran yang membangkang dan melawan kepemimpinan dan policy Shah Reza Pahlavi.
Sejak dibentuk sampai dibubarkan Perdana Menteri (PM) Syapur Bakhtiar pada awal revolusi Islam Februari 1979, ada empat jenderal yang pernah memimpin organisasi ini. “Sejak didirikan, hanya ada jenderal yang memimpin SAVAK. Yang pertama Jenderal Bakhtiar yang mundur di tahun 1961 lalu mengasingkan diri ke Irak dan terbunuh pada 1970,” tulis Nasir Tamara.
Sebanyak tiga jenderal lain yang pernah memimpin SAVAK adalah: Jenderal Pakravan yang dipecat di tahun 1965 setelah terjadi percobaan pembunuhan terhadap Shah Iran. Kemudian Jenderal Nashiri, Gubernur militer Tehran sejak 1965. Lalu ada Jenderal Nasher Moqadam yang diangkat di ujung tahun 1978.
Pimpinan puncak SAVAK selevel wakil perdana menteri dan bertanggung jawab langsung kepada Shah Iran Reza Pahlavi. SAVAK bertanggung jawab besar atas banyaknya tahanan politik di Iran. Kekejamannya luar biasa dan tuduhannya hanya satu: Barang siapa anti-Shah Iran berarti teroris.
“SAVAK tak segan-segan menyiksa tahanannya dengan berbagai cara: mencabut kuku, menyiram air panas, memukul dengan tanda tajam dan tumpul yang keras, mencabut gigi, memperkosa tawanan, penyemprotan air panas ke lubang pantat, beban berat digantungkan di alat kelamin laki-laki, meja dipanaskan sampai putih di mana tawanan diikat, botol pecah dimasukkan ke lubang pantat, dan lainnya,” tambah Nasir Tamara.
Front Nasional Iran pada bulan Juni 1975, tulis Nasir Tamara, menerbitkan Kronik Represi sejak tahun 1963 lengkap dengan nama-nama korbannya. Korban SAVAK setidaknya bisa dikelompokkan jadi empat kategori: mahasiswa (cerdik pandai), kalangan agama (misalnya Ayatullah Thaleqani yang ditahan selama 15 tahun), kelompok gerilya (40 orang dan ditangkap tahun 1971), dan lainnya.
“Sejak tahun 1973, diduga ada 100 orang setiap tahun dibunuh SAVAK. Wanita pertama yang ditembak mati SAVAK adalah Manijeh Asyraf Zadeh Karmani, salah seorang demonstran anti-Shah Iran. Kekejaman militer secara terang-terangan dimulai pada tanggal 14 Januari 1976. Bahkan, seorang murid sekolah menengah bernama Javad Rahmena membakar dirinya hidup-hidup pada 20 Februari 1970 sebagai bentuk protes,” jelas Nasir Tamara dalam bukunya.
SAVAK dikenal karena kekejaman dan kebengisannya dalam setiap operasi yang dijalankan. Banyak intelektual kritis Iran yang jadi korbannya. Satu di antaranya Ali Syariati. Cendekiawan Iran lulusan program doktor (S-3) di sebuah perguruan tinggi ternama di Prancis meregang nyawa akibat aksi agen SAVAK.
Ali Syari’ati (1933–1977) itu seorang sosiolog, pemikir progresif, dan aktivis asal Iran yang dikenal sebagai ideolog utama di balik Revolusi Iran 1979. Meskipun meninggal dua tahun sebelum revolusi meletus, pemikirannya sangat berpengaruh dalam menggerakkan kaum muda Iran untuk melawan rezim Shah Pahlavi yang otoriter.
Ali Syariati lahir di Mazinan, Iran, dan menempuh pendidikan sosiologi di Universitas Paris (Sorbonne), di mana ia terpapar pemikiran Barat seperti Eksistensialisme dan Marxisme, namun tetap kritis terhadapnya.
Cendekiawan cerdas dan kritis dari Iran ini memperkenalkan istilah Rausyan Fikr (Intelektual yang Tercerahkan), yaitu sosok yang memiliki kesadaran sosial dan bertanggung jawab untuk membawa perubahan dan membebaskan masyarakat dari penindasan. Syariati membangun ideologi Islam yang revolusioner dengan dasar Tauhid. Baginya, Tauhid bukan sekadar konsep ketuhanan, melainkan semangat pembebasan manusia dari segala bentuk diskriminasi, ketidakadilan, dan “kesyirikan” sosial.
Selain itu, Ayatullah Haji Husain Ghafari Azar Shari yang ditangkap pada Agustus 1974 mengalami penyiksaan luar biasa, sampai wafat pada 28 Desember 1974.
Selain itu, hukuman mati merupakan fenomena politik-hukum yang lazim di era Shah Iran. Sejak permulaan tahun 1972, sebanyak 300 kali pelaksanaan hukuman mati dijalankan. Di sembilan bulan pertama tahun 1976, sebanyak 22 pelaksanaan hukuman mati bagi tahanan politik SAVAK.
Bagaimana tahanan politik menjalani masa-masa suramnya di kamar penjara? Dalam buku Revolusi Iran, Nasir Tamara menulis pertama kali tahanan politik itu masuk penjara maka mereka dipukuli banyak orang dengan pentung dan kayu.
Jika tetap mengaku, maka tahanan politik itu digantung terbalik, di mana kakinya di atas dan kepalanya di bawah plus dipukuli kayu beramai-ramai.
“Bila tetap tak mengaku, tahanan politik itu diperkosa. Bila tetap tutup mulut, tahanan itu diberi kejutan listrik. Jika tetap bandel dan tak buka informasi, maka semua kuku-kuku di kaki, tangan, dan giginya dicabut tanpa obat bius. Dalam kejadian tertentu, sebuah besi yang telah dibakar diletakkan di wajah sehingga menempel dan membakar seluruh mulut dan bibir tahanan. Seorang pemuda dibunuh dengan cara itu,” kata Nasir Tamara.
Politik kekerasan, teror, intimidasi, represi fisik dan mental kepada lawan politik, dan otoritarian barbar yang dijalankan rezim Shah Iran menimbulkan banyak korban jiwa. Pola ini dijalankan dan diterapkan secara konsisten rezim Shah Iran, dengan interest mempertahankan status quo dan kelanggengan kekuasaan.
Salah satu pilar penting pondasi kekuasaan Shah Iran adalah elite militer dan agama yang tertundukkan. Di samping itu, kelembagaan badan polisi rahasia yang kejam dan bengis seperti SAVAK.
Sampai masa akhir kekuasaannya sebelum mengungsi ke Amerika Serikat dengan alasan berobat untuk kesehatan, Shah Iran setidaknya mempunyai empat pembantu militer terpenting dan loyal.
Siapa mereka? Jenderal Husain Ferdust (Kepala Inspektorat Kerajaan), Jenderal Hasan Tofanian (Asisten Menteri Peperangan), Jenderal Mohammad Amir Khatami (mantan KSAU Iran sejak 1958-1975 sampai akhir hayat), dan Jenderal Ne’matollah Nassiri (mantan Kepala SAVAK 1965-1978 dan kemudian diangkat sebagai Dubes Iran di Pakistan).
“Polisi rahasia SAVAK yang sesungguhnya adalah sebuah organisasi sipil, tapi pemimpin-pemimpinnya adalah militer. Teror yang diingini Shah Iran dilaksanakan organisasi ini, caranya mirip dengan Gestapo di zaman Jerman Nazi,” ungkap Nasir Tamara dalam bukunya: Revolusi Iran. [bersambung]
Ainur Rohim,
Direktur Utama beritajatim.com.






