Surabaya (beritajatim.com)- Menjelang malam terakhir Ramadhan, di kawasan wisata Religi Sunan Ampel seolah tidak pernah tidur. Bagi warga Surabaya, Ampel adalah destinasi all- in- one yang menawarkan pengalaman lengkap dalam satu malam.
Dimulai dengan petualangan kuliner di sore hari sebelum berbuka puasa, Sore hari di Ampel adalah waktu terbaik untuk eksplorasi kuliner. Sambil menunggu bedug Magrib, lorong-lorong pasar berubah menjadi surga bagi pemburu takjil. Aroma Kambing Oven dan Nasi Kebuli yang kaya rempah seperti jintan dan kapulaga seolah memanggil-manggil. Kak Syam (26), salah satu pengunjung yang rutin ngabuburit di sini, menuturkan bahwa kuliner Ampel punya daya tarik yang sulit ditolak. “Setiap ke sini, Roti Maryam sama Kopi Jahenya wajib ada. Bukan cuma enak, tapi rempahnya itu bikin badan terasa fit buat lanjut ibadah malam nanti,” ujarnya sambil mengantri di salah satu kedai legendaris.
Setelah perut terisi dan tenaga kembali pulih, fokus pun berpindah ke Masjid Agung Ampel untuk shalat Tarawih. Di bawah naungan arsitektur kayu jati yang megah dan klasik, ribuan orang bersatu dalam saf-saf yang rapi. Suasana Tarawih di sini punya aura yang berbeda; ada rasa kebersamaan yang kuat meski kita berhimpitan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Setelah salam terakhir, banyak pengunjung memilih untuk tetap tinggal dan berpindah posisi ke sudut-sudut masjid yang lebih tenang untuk agenda selanjutnya.
Malam semakin larut, namun semangat justru semakin meningkat saat memasuki sesi Tadarus dan I’tikaf. Di malam-malam ganjil, selasar masjid dipenuhi oleh mereka yang khusyu melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Kak Hani (22), yang sengaja datang untuk i’tikaf, merasa suasana di Ampel memberikan kedamaian tersendiri. “I’tikaf di sini tuh rasanya beda. Walaupun ramai orang, tapi kalau sudah pegang Al-Qur’an dan mulai tadarus, suasananya jadi hening banget di hati”.
Benar-benar momen buat refleksi diri sebelum Ramadhan berakhir,” ungkapnya dengan tenang. Tak sedikit pula yang memanfaatkan waktu sela ini untuk berziarah ke makam Sunan Ampel. Ziarah di malam hari memberikan suasana yang lebih magis. Cahaya lampu temaram yang memantul di bangunan kuno menciptakan visual yang sangat sinematik, sangat pas bagi Anda yang ingin mengabadikan momen religi dengan estetika yang dalam. Perpaduan antara aktivitas fisik (kulineran) dan aktivitas batin (ziarah & i’tikaf) inilah yang membuat satu malam di Ampel terasa sangat utuh dan memuaskan secara emosional.
Menutup malam dengan doa di bawah naungan arsitektur kayu jati yang megah adalah cara terbaik untuk menjemput fajar kemenangan. Setiap orang pasti punya cerita unik di sini; entah itu rasa hangat dari tegukan pertama kopi jahe, atau kedamaian yang mendadak hadir saat bersimpuh di selasar masjid. Lalu, bagaimana dengan Anda? Apa momen atau kenangan favorit yang selalu membuat Anda ingin kembali lagi ke Ampel di setiap penghujung Ramadhan? Mari kita manfaatkan sisa waktu yang ada untuk mengisi perut dengan yang halal dan membasuh hati dengan yang kekal di jantung religi Surabaya ini. [Devi Dwi Windah Sari]






