Surabaya, (beritajatim.com) – Dakon atau Congklak lebih dari sekadar permainan untuk mengisi waktu, tetapi merupakan warisan budaya yang telah melewati lautan dan bertahan selama ribuan tahun. Di Indonesia, terutama di pulau Jawa, dakon memiliki sejarah yang mendalam dan nilai-nilai filosofis yang signifikan. Berikut adalah penjelasan tentang sejarah dan asal mula permainan congklak:
Secara internasional, congklak termasuk dalam kategori permainan Mancala. Istilah “Mancala” berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti “bergerak” atau “berpindah.”
Para arkeolog menunjukkan bahwa versi awal permainan ini telah ada sejak zaman Mesir Kuno (sekitar 1500-3000 SM). Di benua Afrika, ditemukan lubang-lubang yang mirip dengan papan dakon yang terukir di batu pada kuil-kuil kuno. Dari kawasan Timur Tengah dan Afrika, permainan ini menyebar ke seluruh Asia melalui rute perdagangan sutra dan jalur laut.
Dakon diperkirakan masuk ke Kepulauan Nusantara dibawa oleh para pedagang yang berasal dari Arab atau India antara abad ke-7 dan ke-15. Adaptasi Lokal: Masyarakat setempat tidak hanya mengadopsi cara bermainnya, tetapi juga melakukan penyesuaian pada peralatannya. Papan kayu yang diukir dengan indah mulai ditemukan, menggunakan biji-bijian alami seperti biji sawo (kecik) atau kerang kecil (kuwuk). Variasi Nama: Walaupun umumnya dikenal dengan nama Dakon di Jawa, permainan ini memiliki sebutan yang berbeda di setiap daerah, seperti Congklak (Sumatera/Melayu), Mokaotan (Sulawesi), atau Maggaleceng (Bugis).
Pada zaman dahulu, dakon memiliki posisi yang istimewa dalam struktur sosial: Permainan Bangsawan: Dalam lingkungan keraton, dakon sering dimainkan oleh para putri dari keluarga bangsawan sebagai sarana hiburan yang elegan. Papan dakon milik keraton biasanya dihias dengan ukiran yang sangat rumit, kadang-kadang dengan bentuk naga atau makhluk mitologi serta dilapisi emas. Sarana Sosialisasi Rakyat: Di desa-desa, dakon dimainkan dengan cara yang lebih sederhana, terkadang hanya dengan membuat lubang-lubang kecil di tanah (dakon tanah). Permainan ini menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul setelah beraktivitas di sawah.
Bagi masyarakat pertanian di Jawa, jumlah lubang pada dakon (umumnya ada 7 di setiap sisi) kerap dikaitkan dengan jumlah hari dalam seminggu. Beberapa referensi menunjukkan bahwa para petani di masa lalu menggunakan prinsip permainan dakon untuk menghitung musim tanam atau memperkirakan hasil panen. Pergerakan biji dari satu lubang ke lubang lainnya dianggap sebagai simbol siklus waktu dan rezeki yang perlu dikelola dengan bijaksana. [Nickma Tsany Byan Leonartha]






