Blitar (beritajatim.com) – Proyek strategis nasional Jalur Lintas Selatan (JLS) di wilayah Kabupaten Blitar menunjukkan progres signifikan. Membentang sepanjang kurang lebih 62 kilometer, jalur yang membelah pesisir selatan ini kini mulai menyambungkan konektivitas antara Kabupaten Tulungagung di sisi barat hingga Kabupaten Malang di sisi timur.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blitar, Agus Zainal Arifin, mengonfirmasi bahwa secara umum kerangka konektivitas JLS di Bumi Penataran telah terwujud.
“JLS yang menghubungkan ruas dari perbatasan Tulungagung hingga Bululawang, Malang, saat ini telah terhubung,” ujar Agus saat memberikan keterangan pada Selasa (17/3/2026).
Meski konektivitas antarkabupaten sudah mulai terlihat, Agus menjelaskan bahwa pengerjaan masih menyisakan beberapa catatan teknis. Di sisi barat, akses dari Tulungagung terpantau sudah tembus hingga wilayah Sumbersih, Kecamatan Ringinrejo. Jalur ini sebenarnya sudah bisa dilalui oleh kendaraan, namun statusnya belum difungsikan sebagai jalur utama.
“Dari Tulungagung sampai Sumbersih sudah bisa diakses, meskipun belum sepenuhnya difungsikan (sebagai jalur utama),” imbuhnya.
Saat ini, tantangan utama menyisakan satu segmen yang belum masuk tahap konstruksi fisik, yakni ruas Ringinrejo–Sumbersih dengan panjang sekitar 13 kilometer. Sementara itu, untuk ruas Ringinrejo–Jolosutro, pengerjaan direncanakan akan segera digeber oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) mulai Juni 2026 mendatang. “Target kami di tahun 2026 ini seluruhnya bisa tersambung secara total dan sempurna,” tegas Agus.
Menjelang momentum Lebaran yang sudah di depan mata, Pemerintah Kabupaten Blitar berencana membuka sebagian ruas JLS secara terbatas. Langkah ini diambil untuk mengurai potensi kemacetan dan memberikan alternatif akses bagi masyarakat. Namun, pembukaan ini akan bersifat situasional.
“Beberapa ruas kemungkinan dibuka saat Lebaran, tapi tetap melihat kondisi lapangan. Kami harus waspada karena sebelumnya sempat ada penutupan akibat insiden kecelakaan di titik tertentu,” jelas Kepala Dinas PUPR tersebut.
Hadirnya JLS diakui menjadi magnet baru bagi sektor pariwisata di Blitar selatan. Saat ini, jalur tersebut sudah ramai dimanfaatkan warga untuk menuju destinasi wisata pantai seperti Pasur, Tambakrejo, dan Pudak.
Untuk mendukung efektivitas JLS, Pemkab Blitar terus memacu pembangunan ‘jalan sirip’ atau akses penghubung. Jalur utama dari arah utara telah ditetapkan melalui rute Kanigoro–Lodoyo–Margomulyo hingga tembus ke Pantai Serang.
Senada dengan hal tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.7 JLS, Leo Aditya Mahardika, menambahkan bahwa ruas dari batas Tulungagung hingga Pantai Peh Pulo sudah mulai bisa dilalui sejak 16 Februari 2026 lalu.
“Masyarakat sudah bisa melintas, namun kami sangat mengimbau agar pengendara tetap berhati-hati dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada, mengingat medan jalan yang memiliki karakteristik khas jalur pesisir,” tutup Leo. (owi/kun)






