Surabaya (beritajatim.com) – Industri teknologi global memasuki fase baru transformasi, ditandai dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran.
Sejak Januari 2026, lebih dari 45.000 pekerjaan di sektor teknologi telah terpangkas, seiring perusahaan melakukan restrukturisasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Fenomena ini menunjukkan pergeseran signifikan, di mana AI tidak lagi sekadar ancaman abstrak, melainkan telah menjadi faktor nyata yang membentuk ulang struktur tenaga kerja perusahaan teknologi dunia.
Sejumlah perusahaan teknologi besar menjadi sorotan dalam gelombang pengurangan karyawan ini. Amazon tercatat sebagai perusahaan dengan jumlah PHK terbesar, dengan sekitar 16.000 karyawan korporat dirumahkan pada Januari 2026. Secara total, perusahaan ini telah memangkas sekitar 30.000 posisi sejak Oktober 2025.
Wakil Presiden Senior Amazon untuk pengalaman karyawan dan teknologi, Beth Galetti, menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari efisiensi organisasi.
“Memperkuat organisasi kami dengan mengurangi lapisan birokrasi, meningkatkan kepemilikan tanggung jawab, dan menghilangkan birokrasi,” ujarnya.
Sementara itu, perusahaan fintech Block juga mengumumkan pemangkasan lebih dari 4.000 karyawan atau hampir 40% dari total tenaga kerjanya. CEO Block, Jack Dorsey, secara tegas mengaitkan keputusan tersebut dengan perkembangan AI.
“Alat-alat kecerdasan buatan telah mengubah apa artinya membangun dan menjalankan sebuah perusahaan,” tulis Dorsey.
“Tim yang jauh lebih kecil, dengan menggunakan alat-alat yang kami kembangkan, bisa melakukan lebih banyak dan melakukannya dengan lebih baik.”
Langkah serupa dilakukan Dell Technologies yang mengurangi sekitar 11.000 karyawan pada tahun fiskal 2026, serta Atlassian yang memangkas sekitar 1.600 posisi atau 10% dari total stafnya.
CEO Atlassian, Mike Cannon-Brookes, mengakui dampak AI terhadap kebutuhan tenaga kerja.
“Akan munafik jika berpura-pura AI tidak mengubah kombinasi keterampilan yang kami butuhkan atau jumlah posisi yang diperlukan di area-area tertentu,” katanya.
AI: Alasan Nyata atau Sekadar Dalih?
Analisis dari RationalFX mencatat sekitar 9.200 dari total PHK—atau sekitar 20%—secara langsung dikaitkan dengan implementasi AI dan restrukturisasi organisasi.
Namun demikian, sejumlah perusahaan yang melakukan PHK justru menunjukkan kinerja keuangan yang kuat. Amazon, misalnya, mencatat pendapatan rekor sebesar 716,9 miliar dolar AS pada 2025, sementara laba kotor Block meningkat 24% secara tahunan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan analis. Sebagian menilai AI memang menjadi titik balik dalam efisiensi perusahaan, sementara yang lain melihat narasi AI digunakan untuk membenarkan penghematan biaya dan mendanai investasi teknologi lebih lanjut.
Dampak Meluas dan Tren Berlanjut
Gelombang PHK ini tidak hanya terjadi di perusahaan teknologi inti, tetapi juga merambah sektor lain. Data dari Challenger, Gray & Christmas menunjukkan bahwa rencana PHK di Amerika Serikat melonjak 205% pada Januari 2026 dibandingkan bulan sebelumnya, mencapai 108.435 kasus—tertinggi sejak 2009.
Jika tren ini berlanjut, total PHK di sektor teknologi diperkirakan bisa mencapai hampir 265.000 sepanjang 2026, melampaui angka 245.000 pada tahun sebelumnya.
Analis RationalFX, Alan Cohen, menilai perubahan ini sebagai keniscayaan di era AI.
“Seiring AI mengambil alih lebih banyak tanggung jawab yang dulunya ditangani manusia, pertanyaannya bukan lagi apakah pekerjaan akan berubah, tetapi kapan dan bagaimana,” tulisnya.
Perusahaan Lain Ikuti Tren Efisiensi AI
Selain perusahaan besar tersebut, sejumlah perusahaan lain juga mulai melakukan langkah serupa. Meta dilaporkan tengah merencanakan PHK yang dapat berdampak pada lebih dari 20% tenaga kerjanya. Sementara itu, perusahaan trading IronFX memangkas sekitar 150 karyawan sebagai bagian dari efisiensi berbasis AI.
Oracle juga mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi generasi kode berbasis AI memungkinkan perusahaan merampingkan tim engineer.
“Teknologi ini memungkinkan kami membangun lebih banyak software dalam waktu yang lebih singkat dengan lebih sedikit orang,” ungkap perusahaan tersebut.
Transformasi Dunia Kerja Tak Terelakkan
Gelombang PHK di awal 2026 menjadi sinyal kuat bahwa transformasi dunia kerja akibat AI semakin nyata. Perusahaan kini berlomba meningkatkan efisiensi melalui otomatisasi, sementara tenaga kerja dituntut untuk beradaptasi dengan kebutuhan keterampilan baru.
Perubahan ini menandai era baru dalam industri teknologi, di mana produktivitas tidak lagi bergantung pada jumlah tenaga kerja, melainkan pada kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan secara optimal. (ted)






