Gresik (beritajatim.com) – Tradisi Pasar Bandeng di Kabupaten Gresik kembali menghadirkan daya tarik yang selalu dinanti masyarakat setiap bulan Ramadan. Salah satu yang paling ditunggu adalah kemunculan bandeng kawak, bandeng berukuran raksasa hasil budidaya para petambak lokal yang dipelihara dengan perawatan khusus selama bertahun-tahun.
Tahun ini, tiga bandeng kawak berukuran jumbo dipastikan ikut meramaikan kontes yang menjadi ikon tradisi tahunan tersebut. Ikan-ikan berukuran luar biasa ini bukan sekadar komoditas perikanan, tetapi juga simbol kebanggaan para petambak tambak di wilayah pesisir Gresik.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Gresik, Ratna Heri Sulistyowati, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendata tiga petambak yang akan berpartisipasi dalam Kontes Bandeng Kawak tahun ini.
“Peserta yang sudah terdata di antaranya Zainul Abidin dari Desa Watuagung, Kecamatan Bungah, kemudian Syaifullah Mahdi dan Askin yang keduanya berasal dari Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujung Pangkah,” ungkapnya, Minggu (15/3/2026).
Menurut Ratna, proses penilaian terhadap bandeng kawak dilakukan langsung di lokasi tambak para peserta. Penilaian tersebut telah dimulai sejak kemarin hingga hari ini untuk memastikan kualitas, ukuran, dan kondisi ikan yang akan mengikuti kontes.
“Kita penilaian lapangan mulai kemarin hingga hari ini,” tuturnya.
Bandeng-bandeng raksasa ini menjadi magnet utama dalam Kontes Bandeng Kawak, yang merupakan rangkaian acara tradisi Pasar Bandeng. Agenda tersebut selalu menyedot perhatian warga dan dijadwalkan digelar pada Senin malam (16/3) di kawasan Bandar Grisse.
Tidak hanya masyarakat lokal, tradisi ini juga kerap menarik pengunjung dari berbagai daerah yang penasaran melihat langsung bandeng dengan ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan bandeng pada umumnya.
Lebih dari sekadar lomba, Kontes Bandeng Kawak merupakan simbol kekayaan budaya sekaligus potensi perikanan Kabupaten Gresik. Tradisi ini bahkan diyakini telah berlangsung sejak masa Sunan Giri, salah satu tokoh penyebar Islam di Jawa, dan hingga kini tetap menjadi bagian penting dari rangkaian tradisi masyarakat Gresik menjelang Idul Fitri.
Di tengah modernisasi, kemunculan bandeng-bandeng raksasa setiap Ramadan seolah menjadi pengingat bahwa warisan budaya dan kearifan lokal masih terus hidup di pesisir Gresik, dirawat oleh para petambak yang setia menjaga tradisi turun-temurun. [dny/but]






