Surabaya (beritajatim.com)- Memasuki minggu terakhir di bulan suci Ramadhan, atmosfer di Jawa Timur mulai mengalami pergeseran yang syahdu. Jika sebelumnya pusat keramaian tertuju pada pasar takjil dan pusat perbelanjaan , kini perhatian masyarakat perlahan berpindah ke area pemakaman. Tradisi nyekar , atau ziarah kubur ke makam leluhur, resmi menjadi pembuka rangkaian ritual lebaran bagi sebagian besar masyarakat Jawa Timur. Hal unik yang jelas terlihat adalah munculnya Pasar Kaget Bunga dadakan yang tersebar di sepanjang trotoar jalan menuju TPU.
Ritual Nyekar biasanya dimulai dengan aksi resik-resik, yang biasanya dilakukan oleh sang anak atau keluarga. Menggunakan arit atau sapu lidi, mencabuti rumput liar dan membersihkan nisan. Setelah makam terlihat asri, kembang setaman ditaburkan secara merata di atas pusara. Campuran warna merah mawar, putih melati, hingga aroma khas kenanga dan kantil . Tak lupa dengan botol yang berisi air mawar, sebagai lambang doa agar mereka yang didalam kubur senantiasa diberikan kesejukan dan ketenangan oleh Sang Pencipta.
Di sela -sela riuhnya peziarah yang datang silih berganti, selalu terdengar gumaman doa yang syahdu dari setiap sudut makam. Menariknya, tradisi Nyekar di Jawa Timur ini juga seringkali menjadi titik temu pertama bagi para pemudik yang baru saja menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Sering ditemui pemandangan mengharukan di mana keluarga besar yang terpisah jarak selama setahun, justru pertama kali bersalaman dan berpelukan di depan makam kakek atau nenek mereka. Selain itu keunikan tradisi ini juga membawa dampak sosial yang nyata bagi warga sekitar makam. Selain pedagang bunga, para penyedia jasa parkir hingga pembersih makam musiman turut merasakan berkah ekonomi di penghujung Ramadhan.
Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, para peziarah mulai melangkah keluar dari gerbang makam dengan perasaan yang lebih ringan dan lega. Mereka pulang membawa sisa tangisan kerinduan, wangi melati dan kantil yang masih menempel di jemari, siap menyambut takbir kemenangan dengan jiwa yang lebih rendah hati. Nyekar telah menunaikan tugasnya sebagai pengingat bahwa sebelum merayakan kemenangan, kita harus selalu ingat pada akar sejarah dan doa yang tertanam di atas pusara dan jiwa jiwa yang tiada namun kekal dalam doa. [Devi Dwi Windah Sari]






