Bojonegoro (beritajatim.com) – Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani dilaporkan jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Di sejumlah wilayah, gabah petani hanya laku di kisaran Rp5.700 hingga Rp6.300 per kilogram, sehingga memicu keluhan dari para petani yang berharap harga mengikuti acuan pemerintah.
Petani asal Kecamatan Sumberrejo, Munir mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain menjual gabah dengan harga yang ditawarkan tengkulak. “Kita tahu harga gabah dari pemerintah infonya Rp6.500, tapi ya mau gimana lagi, lakunya segitu. Tapi alhamdulillah masih untung,” ujar Misbah, Selasa (10/3/2026).
Keluhan serupa disampaikan Kaklim, petani dari Desa Gayam, Kecamatan Gayam. Ia mengatakan harga gabah pada musim panen tahun ini berada di kisaran Rp6.100 hingga Rp6.300 per kilogram. Meski berada di bawah HPP, menurutnya harga tersebut masih lebih baik dibandingkan tahun lalu yang sempat turun di bawah Rp6.000 per kilogram.
“Alhamdulillah tahun ini harganya lumayan stabil. Dari panen sekitar dua ton padi, sebagian saya jual dan sebagian lagi saya simpan untuk kebutuhan makan keluarga,” kata Kaklim.
Menariknya, kondisi berbeda justru terjadi di tingkat pengepul. Prapto, salah satu tengkulak gabah di Bojonegoro, mengaku harga jual gabah ke gudang Bulog saat ini justru berada di atas HPP, yakni sekitar Rp6.800 hingga Rp6.900 per kilogram.
“Gabah kering tahun ini saya setor ke gudang diterima dengan harga Rp6.800 sampai Rp6.900 per kg. Tahun lalu mentok di Rp6.500, bahkan kadang turun sampai Rp6.200,” ungkapnya.
Menurut Prapto, ia membeli gabah dari sejumlah desa seperti Malingmati, Turi, Kalisumber, hingga Gamongan dengan harga Rp6.100 hingga Rp6.300 per kilogram. Harga tersebut juga sudah termasuk potongan biaya panen menggunakan mesin atau kombi. “Harga itu sudah termasuk dipotong biaya kombi,” jelasnya. [lus/ian]






