Blitar (beritajatim.com) – Ruang reses masa persidangan I DPRD Kota Blitar di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Jumat (6/3/2026), mendadak menghangat. Legislator dari Fraksi Gerindra, Tan Ngi Hing, melontarkan reaksi keras menyikapi pernyataan kontroversial seorang Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) universitas ternama yang menjuluki Presiden Prabowo Subianto sebagai “Presiden Bodoh”.
Pernyataan yang sempat viral di jagat maya tersebut dinilai Tan Ngi Hing sebagai sebuah kemunduran dalam berdemokrasi dan mencederai perasaan jutaan rakyat Indonesia yang telah memberikan suaranya pada pemilu lalu.
Tan Ngi Hing menekankan bahwa kritik adalah napas demokrasi, namun martabat jabatan presiden adalah simbol kedaulatan rakyat yang harus dijaga. Menurutnya, serangan personal dengan diksi merendahkan sama sekali tidak mencerminkan identitas mahasiswa sebagai kaum intelektual.
“Pernyataan tersebut tidak hanya merendahkan martabat presiden, tetapi juga mencerminkan kurangnya rasa hormat terhadap jabatan yang diemban oleh Bapak Prabowo. Beliau terpilih melalui proses demokrasi yang sah dan merupakan representasi suara rakyat,” tegas Anggota Komisi 1 DPRD Kota Blitar tersebut.
Ia menyayangkan jika kelompok intelektual muda lebih memilih umpatan ketimbang gagasan konstruktif. “Kritik adalah bagian dari demokrasi, tetapi harus disampaikan dengan etika dan hormat,” imbuhnya.
Alih-alih sekadar mengecam, Tan Ngi Hing mengambil langkah yang lebih berani. Ia secara terbuka mengundang Ketua BEM tersebut untuk duduk bersama dan menguji isi kepala melalui diskusi.
“Saya ingin bertemu dan mengajak diskusi mengenai pemikiran-pemikiran yang mereka miliki untuk kemajuan bangsa ini. Mari kita bicara substansi, bukan sekadar caci maki,” tambahnya dengan nada menantang namun persuasif.
Namun, di sisi lain, nada bicara Tan Ngi Hing juga sempat mengeras. Ia mengusulkan agar ada aturan lebih ketat untuk memagari martabat kepala negara. Bahkan, ia menyarankan agar dilakukan penelusuran lebih dalam terhadap motif dan latar belakang individu-individu yang melontarkan penghinaan personal terhadap presiden.
“Kita perlu mengetahui latar belakang mereka. Siapa mereka dan dari mana asalnya harus menjadi perhatian serius agar tidak menjadi pola yang merusak keharmonisan bangsa,” ujarnya secara kritis.
Menutup pernyataannya di hadapan konstituen, Tan Ngi Hing mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, untuk kembali fokus pada persatuan. Ia berharap kritik di masa depan lebih berbasis pada data dan solusi bagi negara, bukan narasi yang memecah belah.
“Kita harus fokus pada kebaikan bersama. Kami berharap masyarakat tetap menjaga etika dan martabat dalam menyampaikan pendapatnya demi masa depan Indonesia yang lebih baik,” pungkas politisi senior Gerindra tersebut. (owi/ian)







1 Komentar
Sebaikny Prabowo mengundurkan diri