Blitar (beritajatim.com) – Sebuah ironi tengah membayangi dunia pendidikan di Kabupaten Blitar. Di tengah kampanye peningkatan literasi nasional, SDN Tlogo 2 Kanigoro Kabupaten Blitar justru terancam kehilangan tiga fasilitas ruangannya demi ambisi pendirian Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Rencana alih fungsi ruang sekolah menjadi unit usaha ekonomi desa ini memicu reaksi keras dari gedung wakil rakyat. Legislatif mengingatkan pemerintah daerah bahwa sekolah bukanlah komoditas lahan yang bisa dikorbankan demi kepentingan profit jangka pendek.
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar, Sugeng Suroso, menegaskan bahwa pihaknya tetap berdiri pada prinsip awal: menolak pengorbanan fasilitas pendidikan. Baginya, pendidikan adalah investasi masa depan yang nilainya tidak bisa dibandingkan dengan perputaran uang di koperasi.
“Kami sejak awal konsisten meminta agar dicari lokasi alternatif. Jangan korbankan tempat pendidikan untuk itu. Sekolah adalah investasi masa depan, bukan sekadar urusan kepentingan ekonomi saja,” tegas Sugeng Suroso, Jumat (6/3/2026).
Objek yang akan dikorbankan dalam pembangunan KDMP ini bukan sekadar ruangan kosong, melainkan ruang kepala sekolah, ruang latihan, dan perpustakaan. Politikus PDIP itu, menyoroti nasib ribuan buku koleksi sekolah yang terancam terlantar jika gedung perpustakaan dirubuhkan tanpa adanya bangunan pengganti yang layak.
“Ada ribuan buku milik sekolah yang butuh tempat layak dan lokasi belajar yang representatif. Jika rencana KDMP ini tetap dipaksakan, harus ada ruang pengganti dulu sebelum bangunan lama dirubuhkan,” bebernya dengan nada kritis.
Meski santer terdengar kabar bahwa pihak eksekutif (Bupati Blitar) telah memberikan sinyal persetujuan, Komisi IV memberikan syarat mati yang tidak bisa ditawar.
Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar menuntut pemerintah daerah untuk bertanggung jawab penuh menyediakan gedung pengganti sebelum alat berat menyentuh SDN Tlogo 2. (owi/ted)






