Bondowoso (beritajatim.com) – Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajad, langsung bergerak cepat merespons musibah ambruknya atap Gedung Bale Pamitran milik Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pasumuan Bondowoso.
Ia segera berkoordinasi dengan pemerintahan provinsi Jawa Timur untuk mencari solusi percepatan perbaikan gedung tersebut.
Atap gedung serbaguna yang dikenal dengan nama Bale Pamitran itu ambruk pada Rabu pagi (4/3/2025) sekitar pukul 08.20 WIB. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut karena saat kejadian gedung dalam keadaan kosong tanpa aktivitas.
Pendeta GKJW Bondowoso, Kristiyanti Retno Wahyuni, menuturkan bahwa kejadian tersebut sangat mendadak dan tidak didahului oleh tanda-tanda kerusakan sebelumnya.
“Sampai tiba-tiba kemarin hari Rabu, jam 8.20 itu ambruk atapnya,” ujar Pendeta Kristiyanti, Kamis (5/3/2026) sore.
Ia menjelaskan, gedung yang dibangun pada tahun 2013 atau sekitar 12,5 tahun lalu ini selama ini digunakan untuk berbagai kegiatan non-ibadah.
Berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan rutin digelar di tempat tersebut, mulai dari bulu tangkis, pertemuan PKK dan RT, rapat warga, pemeriksaan kesehatan, latihan paduan suara, senam, hingga menjadi pojok baca warga.
“Sehingga dengan setelah ini ambruk ya nanti kegiatan-kegiatan yang selama ini dilakukan di gedung serbaguna ini akan pindah di gereja yang baru, gedung yang baru,” tambahnya.
Dia menduga penyebab ambruknya atap adalah faktor cuaca ekstrem. Hujan deras yang mengguyur beberapa hari terakhir diduga membebani struktur atap secara berlebihan.
“Hujan beberapa hari terakhir yang begitu deras menyebabkan genting yang tebal itu semakin berat bebannya, dan usia galvalum yang hampir 13 tahun itu kemungkinan tidak kuat menahan beban itu,” jelasnya.
Pihak gereja berencana untuk segera melakukan asesmen guna mengetahui kekuatan struktur dinding yang tersisa. Jika memungkinkan, mereka akan berupaya membangun kembali atap tersebut dan berharap ada dukungan dari berbagai pihak.
“Sehingga itu yang nanti mungkin membutuhkan dukungan banyak pihak dan kami juga akan mengupayakan yang semaksimal mungkin,” pungkasnya.
Menanggapi musibah ini, Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajad, menyatakan keprihatinannya. Ia menegaskan bahwa kejadian ini merupakan musibah yang tidak diinginkan dan terjadi di luar jadwal perencanaan anggaran.
“Ini merupakan sebuah kejadian yang tidak kita inginkan bersama, tapi yang namanya musibah, tidak ada jadwalnya. Kebetulan gedung saudara-saudara kita di GKJW yakni Balai Pamitran itu atapnya runtuh karena diterpa hujan deras selama sekian hari,” ujar Sinung.
Sinung mengakui bahwa kejadian yang mendadak ini menjadi tantangan tersendiri dalam hal penganggaran karena tahun anggaran 2026 telah berjalan. Proses normal melalui APBD diperkirakan baru bisa dieksekusi pada tahun 2027.
“Ketika menggunakan APBD itu harus ada tahapan-tahapan dan jadwal. Sedangkan ini kejadian yang sifatnya mendadak,” terangnya.
Namun, ia bersyukur Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid juga telah langsung berkunjung ke lokasi pasca kejadian pada Rabu (4/3/2026).
“Alhamdulillah Bapak Bupati kemarin juga sudah langsung berkunjung. Semoga segera ada kebijakan-kebijakan dari beliau selama tidak menyalahi aturan,” tambahnya.
Sebagai langkah taktis, Sinung yang merupakan legislator PDI Perjuangan mengaku telah berkoordinasi dengan pihak provinsi untuk mencari celah agar perbaikan bisa segera dilakukan di tahun ini juga.
Menurutnya, aturan di tingkat provinsi lebih longgar sehingga memungkinkan adanya respons cepat terhadap kejadian darurat seperti ini.
“Tadi saya sudah kontak beberapa teman di provinsi, mudah-mudahan lancar seperti harapan kita bersama dan di tahun ini bisa segera diperbaiki,” pungkas Sinung. (awi/ted)






