Gresik (beritajatim.com)- Indonesia kembali menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban dunia. Di balik perbukitan karst Sulawesi Selatan, tepatnya di Leang Bulu Sipong 4, tersimpan mahakarya manusia purba berusia sekitar 44.000 tahun disebut sebagai seni cadas tertua di dunia yang menggambarkan adegan perburuan binatang oleh manusia prasejarah.
Yang mengejutkan, situs luar biasa ini berada di area tambang tanah liat milik PT Semen Tonasa, anak usaha dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG. Namun alih-alih terancam, gua purba ini justru dilindungi dan dikonservasi secara serius sebagai bagian dari komitmen pembangunan berkelanjutan.
Leang Bulu Sipong 4 terletak di Bukit Bulu Sipong, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Situs ini pertama kali ditemukan pada 2016 oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar.
Penemuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penelitian ilmiah, termasuk pengambilan sampel pertanggalan pada lukisan cadas yang menggambarkan adegan perburuan babi rusa dan anoa oleh sosok manusia setengah hewan (therianthrope).
Hasil penelitian menunjukkan usia lukisan tersebut mencapai ±44.000 tahun, menjadikannya salah satu karya seni figuratif tertua yang pernah ditemukan di dunia.
Temuan fenomenal ini memperkuat posisi kawasan karst Maros-Pangkep sebagai pusat peradaban manusia purba yang mendunia.
Komitmen perlindungan kawasan ini membuahkan hasil internasional. Bulu Sipong 4 sebagai salah satu geosite di Geopark Maros Pangkep resmi masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark pada 2023 berdasarkan keputusan Sidang Dewan Eksekutif ke-216 di Paris, Prancis oleh Unesco.
Pengakuan ini semakin menegaskan nilai universal luar biasa (Outstanding Universal Value) yang dimiliki situs prasejarah tersebut. Pasalnya, 31,64 hektare area tambang ditetapkan jadi kawasan konservasi.
Atas rekomendasi tersebut, SIG sebagai induk perusahaan, PT Semen Tonasa bergerak cepat menetapkan kawasan Bulu Sipong seluas 31,64 hektare atau 11,3% dari total lahan tambang 280 hektare sebagai kawasan konservasi.
Pada 18 Mei 2018, perusahaan meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong untuk melindungi keanekaragaman hayati sekaligus kawasan purbakala.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bukti nyata komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan industri, lingkungan, dan nilai budaya.
“Bulu Sipong diharapkan menjadi sarana edukasi dan membantu mempromosikan sejarah serta budaya peradaban kepada masyarakat luas,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Salam pengelolaannya, PT Semen Tonasa bekerja sama dengan LPPM Universitas Hasanuddin untuk merilis Cultural Heritage Management Plan sebagai panduan pengelolaan situs prasejarah secara berkelanjutan.
Selain itu, perusahaan juga berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX dalam berbagai langkah teknis perlindungan, antara lain pemantauan getaran dan udara ambien secara berkala, pengecoran jalan sepanjang 1.800 meter. Kemudian penyiraman rutin jalan tambang untuk mengurangi debu, pemasangan pagar pembatas sepanjang 1.900 meter, dan pemasangan rambu perlindungan situs.
Semua langkah ini dilakukan untuk memastikan aktivitas industri tidak mengganggu kelestarian situs prasejarah tersebut. Keberadaan Leang Bulu Sipong 4 menjadi bukti bahwa kegiatan industri dan pelestarian warisan budaya dunia dapat berjalan berdampingan melalui tata kelola yang bertanggung jawab.
Dari perut bukit karst Sulawesi Selatan, dunia belajar satu hal penting. Jejak manusia purba bukan sekadar lukisan di dinding gua, melainkan warisan peradaban yang harus dijaga bersama — untuk hari ini dan generasi mendatang. [dny/ian]






