Yogyakarta (beritajatim.com)- Puasa Ramadhan tidak sekadar ritual ibadah. Di balik praktik menahan makan dan minum selama lebih dari 12 jam, tersimpan proses biologis penting yang berdampak langsung pada kesehatan tubuh.
Salah satunya adalah autofagi, mekanisme alami yang membantu tubuh membersihkan sel-sel rusak dan memperbaruinya dengan yang baru.
Hal ini disampaikan oleh dosen gizi kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih. Ia menjelaskan bahwa durasi puasa Ramadan yang rata-rata berlangsung 13–14 jam sudah cukup untuk memicu proses autofagi.
Menurut Mirza, autofagi umumnya mulai aktif setelah tubuh berpuasa selama 12–16 jam. Artinya, durasi puasa Ramadan yang dijalankan umat Muslim di Indonesia telah memenuhi syarat terjadinya proses detoksifikasi alami tersebut.
Autofagi berfungsi membersihkan komponen sel yang rusak, lalu mendaur ulangnya menjadi energi atau bahan pembentuk sel baru. Proses ini berperan dalam:
Menstabilkan kadar gula darah
Meningkatkan sensitivitas insulin
Membantu menurunkan berat badan
Mengurangi kadar kolesterol
“Autofagi bisa menjadi mekanisme detoksifikasi dan perbaikan sel tubuh yang rusak,” jelasnya di Kampus UGM, Rabu (4/3/2026).
Puasa Ramadan vs Intermittent Fasting
Mirza juga membedakan puasa Ramadan dengan pola makan intermittent fasting (IF). Keduanya sama-sama memberikan manfaat kesehatan, tetapi memiliki karakteristik berbeda.
Pada intermittent fasting, penurunan berat badan lebih dominan karena optimalisasi pembakaran cadangan lemak tubuh. Sementara pada puasa Ramadan, penurunan berat badan tidak hanya berasal dari pembakaran lemak, tetapi juga karena berkurangnya asupan cairan selama berpuasa.
Dengan kata lain, berat badan yang turun saat Ramadan bisa bersifat sementara jika tidak diikuti pola makan sehat saat berbuka dan sahur.
Dampak bagi Penderita Diabetes
Dari sisi metabolisme glukosa, puasa terbukti membantu menjaga sensitivitas insulin, terutama pada individu sehat dan pradiabetes. Namun, bagi penderita diabetes tipe 2, puasa perlu dijalani dengan pengawasan medis.
Mirza mengingatkan risiko hipoglikemia dapat terjadi jika pasien diabetes tetap mengonsumsi obat tanpa pengaturan pola makan yang tepat saat sahur dan berbuka.
“Jika sudah divonis diabetes, jangan hanya fokus pada obat, tetapi juga perbaiki pola makan,” tegasnya.
Pengaruh pada Pola Tidur dan Emosi
Perubahan waktu makan dan tidur selama Ramadan dinilai tidak perlu dikhawatirkan. Meski terjadi pergeseran ritme sirkadian, kondisi ini hanya berlangsung sementara selama satu bulan.
Menariknya, puasa juga berdampak pada kestabilan emosi. Lonjakan gula darah atau sugar rush yang biasanya memicu perubahan suasana hati dapat ditekan selama puasa. Dengan aliran glukosa yang lebih terkendali, seseorang cenderung lebih tenang dan tidak mudah tersulut emosi.
Kebutuhan Gizi Tetap Sama
Puasa bukan berarti mengurangi kebutuhan nutrisi harian. Yang berubah hanyalah waktu konsumsinya. Karena itu, penting memastikan asupan gizi seimbang saat sahur dan berbuka.
Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia perlu perhatian khusus. Anak-anak boleh belajar berpuasa dengan pendampingan orang tua dan asupan nutrisi cukup. Sedangkan lansia dengan kondisi kesehatan tertentu—seperti sering pusing atau lemah—tidak dianjurkan memaksakan diri.
Jangan Puasa Berkepanjangan Tanpa Pengawasan
Meski bermanfaat, puasa tidak dianjurkan dilakukan secara ekstrem atau berkepanjangan tanpa pertimbangan medis. Puasa terus-menerus dapat meningkatkan risiko asam lambung, memicu GERD, mengganggu keseimbangan hormon, hingga menyebabkan penurunan berat badan yang tidak sehat.
Mirza menyebut, puasa Ramadan bahkan bisa menjadi “riset metabolik alami” karena perubahan parameter kesehatan dapat diukur melalui pemeriksaan sebelum dan sesudah Ramadan. [aje]






