Sidoarjo (beritajatim.com) – Di tengah perang Demak melawan Majapahit, Sunan Ngudung berseru menantang Pancatandha Adipati Terung. Tantangan yang berujung pada kematian.
Lah mara Pancatandha/ padha jurit lawan mami/ pan padha Islam/ lila ingsun ngemasi//
Kemarilah wahai Pancatandha, bertempur melawan aku, kita sesama muslim, aku rela mati olehmu!
Kedahsyatan perang Demak dan Majapahit tergambar secara detail dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa, dikutib dari buku Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo (terbit tahun 2016).
Serat Kandhaning Ringgit Purwa menjelaskan, prajurit Demak dipimpin Sunan Ngudung alias Sunan Kudus, prajurit Majapahit dipimpin Pancatandha Adipati Terung dan Dayaningrat dari Pengging.
Pertempuran berjalan sengit. Saling pukul, saling sabet, saling tikam. Pemimpin dan prajurit sama-sama tangguh. Malam tiba, semua kembali ke tenda masing-masing. Perang hari pertama berakhir imbang.
Situasi berubah total di hari kedua. Pasukan Majapahit berkurang. Dayaningrat dikhianati Kebo Kenanga, anaknya sendiri. Kebo Kenanga berkhianat dan membawa mundur pasukannya karena takut dengan gurunya, Syaikh Lemahbang.
Tahu anaknya berkhianat, Dayaningrat marah besar. Mengamuk. Banyak prajurit Demak tewas jadi sasaran amuk Dayaningrat.
Menyaksikan banyak prajurit Demak tewas, Sunan Ngudung segera bertindak. Dia hadang Dayaningrat. Sama-sama berkuda, sama-sama memegang tombak. Keduanya bertempur adu ketangkasan.
Setelah sekian lama bertempur, Dayaningrat kalah. Kepalanya dipenggal oleh Sunan Ngudung.
Surak pan lir gerah/ semana Dayaningrat/ kasaliring ing ajurit/ tinumbak bengkah/ jajanya angemasi// wus aniba ing kuda lajeng anigas/
Sorak-sorai menggemuruh sewaktu Dayaningrat kalah dalam bertempur, terkena tombak dadanya. Jatuh dari atas kudanya, lalu kepalanya dipenggal.
Berhasil membunuh Dayaningrat, Sunan Ngudung mengarahkan kudanya ke Adipati Terung. Berseru menantang. Adipati Terung tidak mundur. Tantangan diladeni. Keduanya sengit bertempur.
Ki dipati ing Terung aglis anumbak/ Sunan Kudus nadhahi/ kudanya anglumba/ Sunan Kudus pan kena/ butul wai ingkang wentis/ lajeng aniba/ Pancatandha nuruni// Sunan Kudus tinigas ing murdanira/
Adipati Terung menusukkan tombak. Sunan Kudus menangkis, kuda tunggangannya melonjak. Sunan Kudus terkena tombak. Pahanya terluka dan jatuh dari kuda. Pancatandha turun dari kuda, lalu memenggal kepala Sunan Kudus.
Setelah kematian Sunan Ngudung, pimpinan pasukan Demak diserahkan kepada anaknya: Raden Jakfar Shadiq, yang kemudian diberi gelar Sunan Kudus. Dia maju ke medan tempur berbekal pusaka dari Arya Damar, penguasa Palembang.
Melihat Raden Jakfar Shadiq, yang kini bergelar Sunan Kudus, maju memimpin pasukan Demak, Adipati Terung memilih mundur. Tidak turut dalam pertempuran. Mengapa?
Serat Kandaning Ringgit Purwa menjelaskan, Raden Jakfar Shadiq ternyata suami dari anak Adipati Terung. Jadi statusnya anak mantu dengan mertua. Terlebih, Raden Jakfar Shadiq membawa pusaka dari Arya Damar, yang adalah bapak kandung Adipati Terung.
Tanpa Adipati Terung, pasukan Majapahit kocar kacir. Kerajaan Majapahit pun runtuh. [but]






