Jember (beritajatim.com) – Komisi D DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, melakukan inspeksi dadakan (sidak) ke Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi, Jumat (27/2/2026). Direktur RSD dr. Soebandi Nyoman Semita mengakui adanya sejumlah persoalan di rumah sakit tersebut.
Salah satu persoalan adalah daya tampung perawatan yang tak sebanding dengan jumlah pasien yang datang. Banyaknya pasien membuat mereka ditempatkan di ruang-ruang yang masih kosong, kendati berbeda bidang yang ditangani. “Ruang isolasi pun boleh ditempati oleh pasien umum untuk mengurangi antrean,” kata Semita.
Saat ini manajemen dr. Soebandi tengah memetakan tempat tidur tak terpakai di semua ruangan perawatan. Semita mencontohkan ruang bersalin yang memiliki kurang lebih 30 unit tempat tidur. “Angka pemakaian hanya 18,-19 tempat tidur, masih sisa belasan. Nah, ini kami harus menggeser tempat tidur itu,” katanya.
Selama hampir satu tahun memimpin dr. Soebandi sebagai pelaksana tugas direktur, Semita mengaku tidak mencermati kebutuhan dan ketersediaan semua ruangan secara detail. Dia menemukan masih adanya ego di masing-masing bagian atau ruangan perawatan.
Semita meminta waktu untuk melakukan konsolidasi. “Terakhir ini saya agak kencang memutasi supaya tidak muncul ego-ego sektoral. Ada teman (pegawai) yang berada di ruang Dahlia itu tidak pernah menolong persalinan. Jadi saya putar, pindah ke ruang bersalin, dari ruang bersalin pindah ke ruang lain.” katanya.
“Saya putar supaya tidak muncul ego sektoral dan pengetahuan teman-teman tidak makin mengalami down grade. Jadi mohon maaf, ini manajernya itu belajar ‘abal-abal’. Jadi, belajarnya agak terlambat dalam mengamati ego-ego yang muncul di masing-masing ruangan,” kata Semita.
Semita mengatakan sikap ego sektoral tersebut tak lepas dari kebijakan sebelumnya. “Nah, ini kita buat fleksibel,” katanya.
Selama memimpin dr. Soebandi, Semita mengaku cuek dengan urusan keuangan, terutama terkait pembayatan jasa pelayanan (japel). “Saya pokoknya manut Bagian Leuangan,” katanya.
“Ke depan kami akan melakukan perubahan, berbasis pada pekerjaan yang disesuaikan (kinerja) teman-teman. Jadi ruangan yang satu dengan ruangan yang lain belum tentu sama dapatnya (nominal japel). Kami akan memakai memakai indikator di ruangan adalah BOR (Bed Occupancy Rate) dan length of stay-nya,” kata Semita.
Dengan cara ini, menurut Semita, masing-masing ruangan perawatan akan berjuang agar jumlah pasien yang dilayani meningkat, “Mereka berjuang supaya di ruangannya BOR meningkat. Jadi ada tanggung jawab personal dan kelompok di masing-masing ruangan,” katanya.
Semita juga berusaha memberikan insentif buat pegawai di ruangan-ruangan yang berprestasi berdasarkan tingkat keterisian tempat tidur dan masa tinggal.
Semita juga mengupayakan agar tingkay kesejahteraan dokter spesialis di Soebandi bisa sama dengan rumah sakit swasta. Dengan demikian para dokter spesiialis nyaman bekerja di dr. Soebandi.
Anggota Komisi D Mohammad Hafidi memberikan perhatian serius pada manajemen sumber daya manusia di RSD dr, Soebandi. Dia mengkritik pernyataan Semita soal ‘manajer abal-abal’. “Kami menemukan data yang cukup mencengangkan dan mau keluar dari aturan yang ada,” katanya. Temuan itu akan dibahas dalam rapat dengar pendapat selanjutnya.
Usai sidak, Hafidi mengatakan, Komisi D ingin memperoleh data dan informasi seakurat mungkin tentang RSD dr. Soebandi. “Ini dalam rangka meningkatkan pelayanan dan peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah) kita,” katanya. [wir]






