Surabaya (beritajatim.com) – Pergeseran pola tidur selama Ramadan berisiko mengganggu kesehatan dan merusak metabolisme tubuh secara signifikan.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair), Lailatul Muniroh, memperingatkan bahaya kebiasaan begadang yang berlanjut hingga waktu sahur.
Aktivitas malam seperti ibadah tarawih, tadarus, hingga pengerjaan tugas menjadi pemicu utama perubahan jam istirahat. Kondisi ini diperparah oleh fluktuasi hormon kortisol dan melatonin yang memengaruhi kualitas tidur serta kesiapan fisik saat berpuasa.
“Akibatnya tidur menjadi lebih larut, durasi tidur berkurang, atau kualitas tidur terganggu,” ungkap Laila dikutip Sabtu (28/2/2026).
Hal tersebut memicu kantuk berlebih, penurunan konsentrasi, serta ketidakstabilan emosi yang mengganggu produktivitas di siang hari.
Dalam jangka menengah, kurang tidur mengganggu regulasi gula darah dan memicu peningkatan hormon stres. Ketidakseimbangan ini menyebabkan nafsu makan tidak terkontrol saat berbuka yang berujung pada risiko kenaikan berat badan.
Sebaliknya, durasi tidur siang yang berlebihan juga berdampak negatif bagi kebugaran tubuh. Tidur terlalu lama menyebabkan metabolisme melambat dan memicu rasa pusing serta lemas akibat minimnya aktivitas fisik selama berpuasa.
Laila menyarankan masyarakat untuk tidur lebih awal dan menghindari penggunaan gawai sebelum beristirahat. “Tidur yang teratur bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi bagian dari menjaga tubuh,” tegasnya.
Membatasi konsumsi kafein dan tetap aktif bergerak di pagi hari menjadi langkah pencegahan krusial. Kedisiplinan mengatur ritme hidup sangat menentukan optimalnya kondisi fisik dalam menjalankan ibadah selama bulan suci. [ipl/ian]






