Surabaya (beritajatim.com) – Pola makan saat berpuasa berdampak signifikan terhadap efektivitas terapi obat.
Kesalahan memilih menu saat berbuka maupun sahur berisiko menghambat penyerapan zat aktif obat di dalam tubuh.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (FF Ubaya), apt. Steven Victoria Halim, M.Farm., mengingatkan pentingnya menghindari makanan tinggi lemak. Gorengan dan santan kental terbukti memperlambat pengosongan lambung.
Hambatan di usus tersebut membuat obat tidak terserap optimal oleh tubuh. Selain lemak, konsumsi makanan pedas dan asam juga meningkatkan risiko iritasi lambung pada pengguna obat tertentu.
“Makanan pedas atau asam meningkatkan risiko iritasi lambung bila digunakan bersama obat yang memiliki efek samping pada lambung,” jelas Steven dikutip Rabu (25/2/2026).
Minuman berkafein dan produk susu juga perlu diwaspadai. Kafein memicu dehidrasi melalui peningkatan frekuensi buang air kecil, sementara kalsium pada susu dapat mengikat komponen obat tertentu.
Sebaliknya, Steven menyarankan konsumsi protein tinggi dan kurma sebagai sumber energi stabil. Karbohidrat kompleks dalam kurma menjaga kadar gula darah tanpa mengganggu jalannya terapi medis penderita diabetes.
Ia menekankan pentingnya pendampingan tenaga ahli untuk mengatur jadwal minum obat yang ketat. “Jangan pernah menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa konsultasi karena membahayakan kesehatan,” tegasnya.
Masyarakat dapat mengakses layanan konsultasi gratis di Pusat Informasi Obat dan Layanan Kefarmasian (PIOLK) Ubaya. Pengaturan hidrasi yang tepat tetap menjadi kunci utama kelancaran pengobatan selama Ramadan. [ipl/ted]






